By: Julia Penny
The manager interview centers around 5 main areas of competence. These are the qualities or competencies that a successful manager displays, regardless of age, gender, industry or organization. Prepare for management interview questions that explore these competencies.
Provides Clear Direction
A good manager establishes and defines specific objectives and desired results. These are clearly communicated to staff and responsibility and resources appropriately delegated to achieve these outcomes. Ongoing controls are established and follow up implemented to ensure task and goal achievement.
Communicates Clearly and Openly
The manager should be open and direct in dealing with people. Staff want straightforward information from their managers or supervisors. Open communication develops an atmosphere of trust, essential to successful goal attainment.
Develops and Supports People
A skillful manager works with others to maximize performance. Coaching, mentoring, facilitating and delegating all play a role in staff development. Performance management and feedback are also key elements. Supporting staff is consistently rated as one of the most important aspects of effective management.
Makes Decisions When they are Needed
Good judgment and decision-making skills ensure that things get done. Although employees often want a say in things they don't want endless debate and discussion. Effective managers are able to judge when it is time to get on with things and make a decision.
Motivates Staff
A manager that encourages staff to give of their best, recognizes good performance and rewards appropriately will be effective in getting things done and achieving meaningful results.
A manager interview uses behavioral questions to determine the candidate's level of competency in these 5 areas. Based on the premise that past behavior predicts future behavior, these behavioral questions ask the candidate to provide evidence or examples of how they demonstrated the required competency in the past. Prepare for behavioral interview questions that explore these 5 essential competencies in your manager interview.
By: Jonathan Walker
After an excruciatingly concerted effort of searching the job market for that One True Job; you find the perfect job (well, at least for the time being); that vacancy that makes your ears prick and your toes twitch involuntarily. You're thinking "This is it. This is the one I've been looking for all along." Then, like a football receiver anticipating that wild Hail Mary pass from the other end of the field, you think "This one is mine. Please let this one be on me." The quarterback lets loose the ball...
And you did not make it. Maybe you fumbled. Maybe you were tackled 20 yards to the grid iron. Maybe you did not run fast enough. And maybe you realized that the ball was not really meant for you, and another receiver strutted after the touchdown. You bend over at the sidelines, gasping for air.
You could think of the quarterback as that faceless employer, who has to sort through hundreds of applications for that vacancy; and they have to form quick decisions and filter through the solid applicants from riff-raffs. They have to make sure that nothing should fall through the cracks, this being done with quick, furtive glances per application. If your application is a beat-up rehash of the usual format, with a template objective and an ambivalent attitude, then it blends in perfectly with the muddied blur of the recruiter's daily routine. But if your application kicked and elbowed its way to the forefront demanding not only a second glance, but thorough attention, then not only did you score a touchdown, but you hit the ball out of the park, at least before the interview.
Every applicant's immediate objective is to put one foot inside the door and merit an interview. That's why the application is written with this goal in mind. You pepper it with words you know are in line with the industry. You bombard it with your experiences and achievements. These techniques are in no way harmful, but if they are overused and overemphasized, the application reaches the limits of mediocrity.
Consider the following objective: 'Applying for the position posted/advertised in..." The statement is in the active voice which is good, but the phrasing is beat up. Plus the opening is self-defeating. Weren't you writing the application for the purpose of applying? Why restate the obvious?
Or have you fallen for this one? 'Seeking employment in a job commensurate to my qualifications and experience.' Not only does this sound vague and redundant, it tests the recruiter's patience to move on to the next sentence.
Now consider this opening: 'With ten years of experience in journalism as a field correspondent, I have the ability to discern what makes news tick, which promotions sell, and which headlines move copies. I have no plagiarism and libel suites filed against me, and my reputation as a correspondent is impeccable. I have a deadline-oriented attitude, flexibility when it comes to rushing late-minute updates, and I am extremely capable of handling pressure. The following qualifications will further strengthen my necessity in the company:
The recruiter immediately sees the applicant's experience and core strength, the confidence in knowing the industry they are involved in, and the determination to apply these skills and experiences to the job at hand.
A powerful opening grabs the employer's attention and gives him or her pleasure in making a thorough run-down of what you have to offer. It lets them know that the two of you speak the same language, are both on the same page, and most importantly, that you mean business.
Sekarang ini persaingan antar perusahaan semakin ketat, dan ditambah oleh jumlah tenaga
kerja yang semakin banyak (dan berkualitas), maka seseorang dituntut untuk dapat dengan
cepat menyesuaikan diri di tempat kerja barunya. Semakin cepat akan semakin baik. Berikut
adalah strategi bagaimana anda harus bersikap selama 60 hari pertama di tempat kerja baru.
Who knows, mungkin karir anda akan melesat dan tetap berada di jalur cepat.
1. 14 hari pertama: Pengenalan rekan-rekan kerja
Untuk berhasil, diperlukan kombinasi antara performa dengan kepribadian. Supaya bisa
diterima oleh lingkungan baru, sering-seringlah menghabiskan waktu dengan rekanrekan
yang dapat memberitahu kita peraturan-peraturan informal di dalam perusahaan.
Pertama dekati mereka-mereka yang akan sering anda temui (misalnya teman satu
departemen atau dari departemen lain yang mempunyai hubungan erat dengan
pekerjaan anda), para pembuat keputusan (misalnya pimpinan proyek) dan orangorang
yang berpotensi menjadi mentor anda. jangan ragu-ragu untuk menyediakan
waktu makan siang dengan orang-orang ini. Tujuannya tak lain adalah untuk
mengetahui rule-of-the-game yang berlaku di tempat baru tersebut, misalnya apa saja
yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Dengan membangun hubungan, kepercayaan
dan informasi akan datang dengan sendirinya.
2. 30 Hari pertama : Bertemu atasan, tanyakan apakah ada kemajuan dalam
pekerjaan anda
Kebanyakan orang yang baru bekerja di tempat baru melakukan kesalahan fatal dengan
mengira atasan mereka tahu apa saja tugas yang harus anda lakukan. Hal ini
diperparah oleh ketakutan kalau-kalau tugas kita dianggap tidak dikerjakan dengan
benar. Tapi ada hal yang mungkin luput dari perkiraan kita, biar bagaimana pun atasan
pasti ingin anda sukses, karena kesuksesan anda secara tidak langsung akan berakibat
positif pada dirinya (dia juga akan mendapat pujian dari supervisornya).
3. 45 hari pertama : Tulis dan pahami deskripsi pekerjaan anda
Setelah satu setengah bulan di posisi baru, harusnya anda sudah tahu tanggung jawab
apa saja yang harus anda emban. Tulis pertanyaan-pertanyaan yang terlintas di benak
anda di atas sebuah kertas, berikut dengan daftar proyek-proyek yang telah anda
tangani. Kemudian temui atasan anda dan diskusikan hal ini dengannya, hal ini untuk
menyamakan persepsi anda berdua tentang bagaimana menyelesaikan tugas-tugas di
posisi anda yang dapat diterima oleh bos anda.
4. 60 hari pertama : Selesaikan pekerjaan dengan baik
Memang, anda harus melakukan pekerjaan yang cukup sulit untuk membuat orang lain
terkesan. Namun anda harus berhati-hati, pilih proyek pekerjaan yang masuk akal dan
bisa diselesaikan dengan tepat waktu. Sebagai contoh, jangan pilih pekerjaan di mana
hanya anda yang terlibat karena hanya memakan waktu lebih lama dan (mungkin)
tidak mendapat dukungan dari atasan anda. Ambil proyek-proyek yang melibatkan
orang lain dalam tim anda.
5. 60 hari kemudian : Penyegaran
Untuk melakukannya sebenarnya susah-susah gampang. Intinya adalah berusaha
melakukan hal yang sama (dengan semangat yang sama) sebagaimana anda bekerja di
dua bulan pertama. Kemudian buat kerangka kerja berdasarkan landasan yang telah
anda ciptakan di 60 hari pertama tersebut. Memperluas pergaulan hingga mempunyai
banyak teman dari perusahaan lain juga dapat menunjang usaha anda.
Ingatlah selalu bahwa memberikan atau menerima feedback dan mementukan posisi anda di
kantor adalah proses yang terus berlanjut, jadi jangan cepat puas!!
Apakah anda sering mengalami hal-hal berikut :
mood yang berubah-ubah seperti stress atau depresi, sering bingung (atau bengong), menarik
diri dari lingkungan, mengalami masalah dengan hubungan interpersonal dengan orang lain,
kesulitan konsentrasi, dan bermasalah dengan kesehatan saat bekerja dalam penuh tekanan.
Bila jawabannya ya pada dua atau lebih dari pilihan di atas, mungkin anda saat ini berada di
ambang bahaya karena beban pekerjaan mulai membuat anda nyaris gila. Simak cara- cara di
bawah ini, mungkin salah satunya dapat anda gunakan supaya dalam pekerjaan yang penuh
pressure, anda dapat bertahan.
1. Fokus pada penyebab
Setiap orang mengalami tekanan dalam pekerjaan karena masalah yang berbeda-beda,
karena itu solusinya pun bervariasi pada setiap orangnya. Langkah pertama yang harus
anda lakukan adalah menemukan penyebab utamanya, sebenarnya bagian pekerjaan
mana yang membuat anda merasa lelah?
2. Lihat ke depan
Banyak kasus stres dalam pekerjaan disebabkan karena harapan-harapan yang tidak
realistis (bahkan mustahil) terhadap kemampuan atau pekerjaan seseorang. Karena
anda yang paling tahu tentang kemampuan anda sendiri, buatlah langkah-langkah yang
harus ditempuh untuk menyelesaikan pekerjaan, sehingga dengan begitu anda tidak
akan merasa terbebani.
3. Ciptakan keseimbangan
Buat keseimbangan antara pekerjaan, keluarga dan hobi pribadi. Kalau anda
mengutamakan karir saja, mungkin ini saatnya mengubah pola berpikir anda.
Menempatkan karir di atas segalanya hanya akan berakibat buruk dalam jangka
panjang.
4. Berbagi dengan orang lain
Saat anda mulai merasa tekanan pekerjaan , berbagi ceritalah dengan anggota
keluarga, teman, supervisor, atau orang lain yang anda percayai. Bukan hanya anda
saja yang pernah merasakan hal tersebut, dan berbagi/mendapat dukungan dengan
orang lain adalah salah satu cara paling manjur untuk mengatasinya. That way, anda
tidak akan merasa seorang diri.
5. Ambil napas
Seandainya anda mulai merasa tidak mampu lagi menahan beban kerja, cepat ambil
tindakan. Minta liburan singkat, atau habiskan akhir minggu anda di sebuah tempat
kesukaan anda. Saat itu, jangan memikirkan tentang pekerjaan sama sekali, nikmati
saja hobi anda.
6. Melakukan sesuatu yang baru
Biasanya kebosanan memainkan peranan penting dalam job fatigue. Untuk
mengatasinya, cobalah dengan mempelajari hal-hal baru dalam pekerjaan anda atau
meninjau bidang lain. Perdalam pengetahuan anda dengan membaca majalah. Jangan
ragu untuk mngetahui sesuatu yang baru, meski pada kenyataannya hal tersebut tidak
ada hubungan sama sekali dengan profesi yang anda geluti sekarang ini.
7. Minta tambahan pekerjaan
Mungkin anda mulai merasa jenuh karena sudah tidak memdapatkan tantangan lagi
dari tugas anda yang sekarang. Kalau anda memang merasakan demikian, mintalah
proyek tambahan pada atasan anda. Seandainya atasan anda tidak melakukan apaapa,
carilah proyek yang sesuai dengan minat dan kemampuan anda (tentunya setelah
mendapat persetujuan dari atasan anda).
8. Delegasikan tugas
Yang ini kebalikan dari point sebelumnya, bagaimana kalau anda mengemban tugas
yang terlalu banyak dan tidak mampu mengatasinya? Untuk itu, mulailah membagi
tugas anda kepada orang lain, dan jangan sungkan untuk menolak proyek-proyek baru
yang ditawarkan seandainya anda masih harus mengerjakan tugas lain yang masih
berjubel.
Orang mendemonstrasikan sikap negatifnya dengan berbagai cara, namun terkadang ada
sebagian kecil yang menunjukkannya dengan terang-terangan (bahkan cenderung destruktif).
Gak ada salahnya sih, namun hal ini sering kali membawa dampak buruk karena orang lain
akan terpengaruh oleh sikap tidak bersahabat ini. Ada beberapa strategi umum yang bisa
digunakan seandainya anda menghadapi situasi ini.
1. Akui bahwa memang ada masalah dengan tingkah laku rekan anda
Langkah pertama adalah mengetahui saat seseorang menampilkan sikap negatif di
tempat kerja. Jangan mengabaikannya apalagi bila ternyata sikap tersebut berpengaruh
pada penampilan dirinya, anda, orang lain di sekitar anda atau hubungan dengan
klien/pelanggan.
2. Apa sih penyebabnya?
Kita tahu bahwa pemikiran buruk seseorang pasti ada penyebabnya, misalnya masalah
pribadi, stres yang berhubungan dengan pekerjaan, atasan yang menyulitkan, tidak ada
kesempatan untuk mengembangkan diri dalam pekerjaan, dan lain-lain. Seandainya
anda berniat untuk menolongnya, sangat penting untuk mengetahui hal ini. Tanyakan
pertanyaan yang tidak terlalu ’vulgar’ seperti, "Kamu lagi kesal ya? Ada yang bisa
dibantu?" Perlu anda ketahui, bahwa orang yang sedang berada dalam situasi ini akan
menganggap pikiran negatifnya adalah hal yang benar, jadi sabar-sabar saja
menghadapinya.
3. Bangkitkan rasa tanggung jawab
Untuk mengubah sikap negatif seseorang dalam bekerja sangat tergantung pada orang
itu sendiri, apakah ia mau atau tidak untuk berubah. Meski memiliki hak untuk
mempunyai sikap tersebut, namun akan sangat tidak etis bila ia menunjukkannya di
tempat kerja (apalagi bila ia adalah bagian dari sebuah tim). Sebagai salah satu
anggota tim atau (mungkin) atasannya, anda perlu membantu kolega anda agar
menyadari hal ini. Ada baiknya bila anda mendiskusikan masalah ini secara pribadi
dengan rekan anda, sekaligus (secara halus) tunjukkan bahwa sikapnya akan dapat
berpengaruh jelek bagi diri dan timnya.
4. Memberikan masukan
Meski anda mempunyai pendapat bahwa si pemikir negatif harus mengubah
kelakuannya sendiri, namun tidak ada salahnya kalau anda ikut membantu sehingga
proses perubahannya dapat dipercepat. Mungkin ia sendiri tidak tahu bagaimana
bersikap lebih baik. Beritahu bahwa mungkin kelebihan-kelebihan yang dimiliki tertutupi
oleh sikap-sikap negatif yang ditunjukkannya.
5. Tanamkan sikap positif dalam diri rekan lain
Cara yang biasa digunakan di masa lalu (namun masih ampuh) : beri contoh positif
melalui tingkah laku dan sikap sehari-hari anda. Dengan memberi contoh maka anda
akan menjadi panutan bagi rekan kerja anda, dan mungkin secara perlahan sifat- sifat
buruk tersebut akan menghilang dengan sendirinya. Yang terpenting, seandainya anda
mempunyai rekan kerja yang ’sulit’, jangan pernah segan untuk memulai dialog
dengannya. Dengan demikian, anda akan terhindar dari hal-hal yang lebih buruk.
Sekarang ini, yang namanya kesetiaan sudah nyaris punah (terutama dalam dunia kerja). Pada
masa krisis sekarang ini perusahaan dapat dengan mudah membatalkan kontrak kerja, dan
pengurangan karyawan dalam perusahaan adalah suatu hal yang biasa. Bukti-bukti
menunjukkan bahwa mereka yang tetap dalam satu pekerjaan kenaikan upahnya lebih sedikit
dibanding mereka yang menjadi kutu ’loncat’. Jadi buat anda yang ingin mendapat penghasilan
tinggi dalam waktu relatif singkat, inilah kiat-kiatnya :
1. Gonta- ganti pekerjaan adalah sebuah strategi
Bekerja di satu perusahaan selama 10 atau 20 tahun adalah strategi lama, yang saat ini
sangat riskan untuk dilakukan. Buktinya telah banyak kasus di mana perusahaan
melakukan PHK pada karyawan, menutup divisi atau hal-hal lainnya yang dapat
membuat perusahaan tersebut meraih keuntungan atau menjadi lebih kompetitif
menghadapi persaingan.
2. Buka mata terhadap segala kemungkinan pekerjaan baru
Lakukan riset mendalam tentang perusahaan atau industri apa dalam pekerjaan anda
yang sedang booming saat ini. Amati terus perkembangan pasar dan kesempatan yang
ada. Namun selama anda masih bekerja di perusahaan anda yang sekarang, tetaplah
bersikap setia. Selesaikan pekerjaan sebaik-baiknya meski (mungkin) tak lama lagi
anda berencana untuk keluar.
3. Berhenti saat di puncak
Bila anda keluar dari pekerjaan, pastikan bahwa hal tersebut dilakukan bukan karena
pekerjaan anda mulai kacau atau anda bermasalah dengan atasan. Berhenti saat masih
di atas akan membuat nilai anda di tempat anda hendak melamar lebih tinggi.
4. Hargai diri sendiri dengan nilai tinggi
Posisikan diri anda sebagaimana perusahaan yang sedang berusaha
menciptakan/memasarkan sebuah produk baru. Tanyakan diri anda apa yang harus
anda lakukan supaya berada dalam posisi menguntungkan (yang ujung-ujungnya
adalah meraih kesuksesan di masa depan). Jangan menunggu sampai pasar yang
datang pada anda.
5. Buat rencana kecil sebelum interview
Jangan presentasikan diri anda dengan cara konvensional, tunjukkan pada mereka apa
dan bagaimana anda dapat berperan. Pendekatan ini dengan jelas akan membedakan
anda dari para kandidat lain.
6. Perlakukan dirimu dan usaha kecil tersebut dengan semangat tinggi
Lupakan penghargaan-penghargaan yang pernah anda dapat di pekerjaan sebelumnya,
saatnya anda berjuang lagi untuk mendapatkan pujian-pujian berikutnya. Simpan
pertanyaan "kompensasi apa yang akan diberikan pada perusahaan kepada saya",
setidaknya sampai akhir wawancara.
Siapa bilang mencari pekerjaan itu gampang? Rasanya kalimat itu sering sekali diucapkan oleh
semua orang dengan merujuk pada kenyataan yang ada sekarang ini. Namun tahukah anda
bahwa rasa frustrasi menunggu datangnya panggilan itu jauh lebih menyiksa? Hal itu
dikarenakan ketidakpastian yang melanda, yang membuat perasaan jadi tidak karuan. Memang
banyak orang yang memilih untuk bersikap masa bodoh dan cuek, namun berapa lama sih hal
itu bisa bertahan, apalagi kalau panggilan itu tidak kunjung datang?
Jangan remehkan rasa frustrasi ini, karena efeknya bisa panjang. Bisa-bisa saat anda benarbenar
mendapat panggilan, lamaran anda ditolak hanya karena pembawaan atau raut muka
anda yang kusut sebagai efek lanjutan dari rasa kesal tersebut. Mempertahankan keyakinan dan
motivasi memang sangat vital dalam fase ini, namun dengan kiat-kiat berikut, pertahankan
pemikiran positif anda.
1. Rajin- rajinlah ngobrol dengan teman
Akan lebih baik bila dalam situasi sulit seperti ini, anda mempunyai seorang teman
sebagai tempat curhat. Ingat-ingatlah saran-saran yang diberikannya, siapa tahu
bermanfaat bagi anda. Atur waktu teratur untuk bertemu dan berdiskusi, semakin
banyak masukan yang diberikan semakin baik bagi anda.
2. Buat catatan
Tetaplah hidup teratur dengan menyimpan catatan-catatan tentang nomor telepon atau
kapan dan kemana saja kita mengirim lamaran pekerjaan. Dengan mencatat hal- hal
kecil namun penting tersebut, akan lebih mudah saat melakukan follow-up.
3. Bagi waktu dengan baik
Atur dan tentukan berapa lama waktu yang akan dihabiskan untuk membuat surat
lamaran yang akan dikirimkan, melakukan riset pasar melalui website atau hal- hal lain
yang menyangkut lamaran pekerjaan. Dengan begitu, kita tidak berharap terlalu
banyak atau merasa kecewa saat tidak mampu menyelesaikan apa yang telah
ditargetkan tepat pada waktunya.
4. Tentukan tujuan
Motivasi adalah hal yang paling penting dalam mempertahankan harapan dan tidak
putus asa, jadi jangan buat target yang terlalu muluk-muluk. Tetaplah realistis dan
berusahalah untuk dapat konsisten menjalankannya. Sebagai contoh, jangan sampai
anda berencana untuk melakukan puluhan kali telepon dalam satu hari -- anda hanya
akan menjadi depresi bila target tersebut tidak tercapai.
5. Perkuat keyakinan diri
jangan biarkan diri anda larut dalam frustrasi berkepanjangan! Bila anda memerlukan
peralatan kosmetik baru (parfum atau lipstick misalnya), makan dessert yang enak,
atau melakukan massage hanya supaya anda merasa lebih baik, lakukan saja. Lakukan
apapun yang bisa membuat perasaan anda lebih baik, sejauh hal itu tidak merugikan
diri sendiri atau orang lain. Dengan begitu, saat dipanggil untuk wawancara anda dapat
tampil lebih percaya diri dan tenang.
6. Kumpul dengan teman-teman
Sediakan waktu misalnya sekali dalam seminggu atau sebulan untuk berkumpul dengan
teman-teman anda (yang mungkin senasib), tanya perkembangan masing-masing
termasuk menjelaskan tentang perkembangan anda sendiri. Usahakan agar suasana
berlangsung santai dan tidak mengeluarkan banyak uang. Ingatlah bahwa tidak ada
orang yang berusaha mencari lowongan selama 24 jam, jadi tetaplah bergaul!
Meskipun rasanya ingin meledak, namun alangkah bijaksananya bila Anda tidak
melakukan hal tersebut. Sebelum emosi lepas kendali, ingat bahwa hal tersebut akan
mempengaruhi citra Anda di mata rekan kerja. Jangan-jangan mereka berpendapat,
"Ah, Si A (Anda) sih orangnya gampang marah, dimintai tolong sedikit aja gak mau."
Kenyataan membuktikan bahwa terkadang kita harus ''menuntun'' seseorang
bagaimana supaya mereka memperlakukan kita seperti yang kita inginkan. Salah
satunya adalah dengan sesekali membiarkannya ’memanfaatkan’ Anda. Dengan
menyimak tips berikut, hindari bentrokan yang berbuntut persaingan tidak sehat
dengan rekan kerja Anda.
1. Jaga emosi
Daripada memberitahu seeseorang dengan kalimat "Saya kan tidak bisa melakukan
semuanya!" utarakan apa yang bisa Anda lakukan. Dengan begitu Anda bisa
memberikan pengertian pada rekan kerja, dan membuatnya paham akan kesulitan.
2. Gunakan kata "Saya’
Satu kata yang hampir pasti membuat seseorang menjadi defensif dan membela diri
dari tuduhan adalah"kamu". Komunikasi dua pihak langsung berhenti karena lawan
bicara malah sibuk merencanakan strategi pembelaan diri dibandingkan mendengar
penjelasan. Jadi untuk menghindarinya, tidak ada salahnya mulai berkata, "Sebenarnya
saya ingin membantu, namun pekerjaan saya hari ini benar-benar sangat banyak.
Bagaimana kalau rekan lain saja, kebetulan si A sangat ahli mengerjakan pekerjaan
tersebut."
3. Hindari sindiran dan sarkasme
Menyindir seseorang dengan komentar-komentar yang kasar atau bersifat sarkastik
cuma akan membuat kita merasa puas sesaat. Namun berikutnya, efek jangka panjang
yaitu membuat situasi menjadi tambah buruk harus Anda terima yang pasti akan
sangat menyusahkan. Sebisa mungkin hindari deh hal yang satu ini.
4. Jangan potong pembicaraan orang lain
Memotong pembicaraan orang lain bukan hanya merupakan kebiasaan yang tidak
sopan dan sangat mengganggu, namun hal tersebut juga bisa memberikan efek
berlawanan dari apa yang ingin kita dapatkan dari seseorang. Saat memotong
pembicaraan, kita mungkin berpikir untuk tujuan baik yaitu mempersingkat
pembicaraan sekaligus (mungkin) menjelaskan. Namun kenyataannya, malah bisa jadi
orang yang disela tersebut jadi sebal terhadap tingkah Anda.
5. Ajukan pertanyaan sebagai klarifikasi, bukan untuk menuduh
Jangan memulai pertanyaan dengan kata "Kenapa?" karena itu hanya akan membuat
seseorang merasa dihakimi dan kemudian mereka akan melakukan aksi defensif.
Gunakan kata seperti "Siapa," "Apa," "Kapan," "Di mana" atau "Bagaimana" untuk
membuka kalimat pertanyaan yang ingin Anda ajukan.
Rasanya bila Anda mampu menampilkan sisi diri yang asertif, bicara berdasarkan fakta serta
sopan, rekan-rekan kerja akan hormat dan segan. Selain itu ada keuntungan ektra : kalau Anda
bisa diandalkan dan mempunyai hubungan baik dengan semua orang, siapa tahu ada
kesempatan peningkatan karir tanpa diduga-duga. Selamat berkarya!