Wawancara sulit dan teknik mengatasinya

Oleh: DR. Dwi Suryanto ( www.pemimpin-unggul.com )

Ketika anda sedang berburu getol-getolnya berburu pekerjaan, anda pasti sering menghadapi tes wawancara. Sepertinya tes wawancara sederhana saja. Anda hanya diajak omong-omong, dan biasanya suasana sangat rileks. Jangan terjebak dalam rileksnya suasana. Mereka sedang menilai anda. Anda harus hadapi wawancara itu secara professional.

Dari omong-omong rileks ini, mereka sering bertanya, “menurut anda, apa kelemahan yang anda miliki?” Kira-kira bagaimanakah anda menjawab pertanyaan itu.

Tentu saja kita semua memiliki kelemahan, termasuk si pewawancara tentunya. Ketika menjawab pertanyaan ini, anda tentu tidak akan pernah menjawab bahwa kelemahan anda adalah bahwa anda tidak jujur, anda cenderung suka mencuri, dan suka berhantam dengan teman-teman anda.

Jadi anda harus menjawab kelemahan anda sebagai kelemahan yang manusiawi. Contoh, anda memang memiliki kelemahan suka berkelahi dengan temannya. Untuk menyalurkan “bakat” ini anda akhirnya ikut karate. Melalui olah raga ini anda bisa “berhantam” secara sehat dan malah mendapat prestasi. Karena “nafsu” ini sudah tersalur, sekarang anda mampu bergaul dengan orang lain secara harmonis dan saling menghormati.

Sample Interview Questions

You need to read "Types of Questions" before read this article.

Why did you apply for this position?
Tip: How do you think that you might fit into this company

Would you tell us what attracts you to a career with us? How do you see your studies, skills, experience and personal qualities contributing to the work of the organisation? Tip: How do you think that you might fit into this company

Describe a time when you had to deal with conflicting demands. How did you deal with this situation and what was the outcome?

Can you describe a time where you have been required to perform as part of a team? What was the situation? What part did you play in the team and what was the outcome of the exercise?

How do you establish a working relationship with new people?
Tip: Team skills

Where do you expect to be in 5 years time? What will you do if you are not successful in gaining this position?
Tip: Demonstrate to the interviewer that you have thought about what it is you want from work and what you hope to achieve. Let them know you are flexible however, and willing to explore new opportunities.

What particular skills and qualities do you bring to the workforce? What other skills would you like to develop in the future?
Tip: Strengths and weaknesses

Tell me about a challenging situation you have faced. What was the situation and how did you cope with it?

Is there an achievement of which you are particularly proud? What is it? Why is it significant?

Imagine that you are a member of a small team responsible for the development and production of an internal publication. Your team is dependent on another workgroup to provide the data which will form the basis of your publication. The deadline for completing this project is not able to be relaxed. (a) What factors do you think might affect the team's ability to meet the publication deadline? (b) What could the team do to ensure the project is completed on time?
Tip: Hypothetical questions allow the interviewer to identify key competencies deemed important by the employer. No right or wrong answer

What are the key elements of measuring performance and how can you establish whether an outcome represents a success? (Answer this in terms of your own work or study experience.) More specifically, what do you think might be some key indicators of the successful performance of a national agency?
Tip: STAR (Behavioural +Situational question)

You have demonstrated in your CV that you have knowledge of entomology. Could you please expand on your experience and tell us what you think your strengths are in this field. An important component of the position will be the maintenance of water quality parameters within acceptable limits for the species. Can you outline your experience in water quality testing? What do you feel are the most important water quality variables?
Tip: Multi-part question

The ability to work independently within a structured team is essential to the position. This will require the successful applicant to be self-starting, able to prioritise tasks, be a good communicator, as well as showing considerable initiative. Can you give us some examples where you have worked within a team environment and demonstrated these abilities?
Tip: STAR + multi-part question

What do you feel is the potential for aquaculture in Australia and what are some of the major impediments to its development? What are some of the major aquaculture species cultured in freshwater? As well as the position involving general maintenance of the aquaria and pond facilities, a significant component will involve participation in scientific experiments through the collection and collation of research data. Can you describe previous experience you have had in the day to day running of scientific experiments?
Tip: STAR + multi-part question

The research project and facilities the successful applicant will be involved with receives considerable attention from the general public. Therefore, a component of the job will involve liaising with the general public and media. This requires the delivery of information in a simple precise manner. How confident do you feel you are in delivering sometimes complex information in a simple manner?
Tip: give examples

What computer programs are you familiar with, and more specifically, what programs would you use to write a report, enter research data, and to prepare a poster or seminar.
Tip: give examples of where you have applied the use of these programs.

You have had an opportunity to look at the statistical table from the publication (this was supplied before the interview). (a) Imagine you were asked to write a commentary on the information in the table. Are there any significant or curious or interesting features revealed by the data which you think should be highlighted, and if so, what might you say about them? Can you offer any suggestions to explain these features? (b) What is your opinion of the general layout of the table? How might it be improved?
Tip: multi-part question

Types of Questions

Open questions-" Tell us a little about…….."

Keep in mind the selection criteria and your strengths.

Closed questions - Asked when the interviewer wants specific information, often factual or technical in nature, these questions can frequently be answered with a “yes” or “no”

Ask for clarification and elaboration of past experiences.
Require you to demonstrate your technical knowledge in some area

Hypothetical questions-What would you do if…

These will assess your ability to think on your feet.

Leading questions- The answer seems logical…

As a grower representative you will require good communication skills - do you have good skills in this area? Do not give a yes/no answer. Give examples to support your response.

Multi-barrelled - two or more questions linked to the same topic

Don't be afraid to ask to have the question repeated if you can't recall the full question.

Behavioural questions - uses your past experiences to predict future behaviours

Prepare examples of how your experiences have allowed you to develop specific skills and how these could benefit the employer. STAR: Situation, Tasks, Action, Result

The ‘STAR’ Approach for Answering a Question

S: Situation – describe the situation
T: Task or problem – what dilemma or problem did you face?
A: Action – what action did you take?
R: Result – what was the result of your action?

See "sample interview questions".

7 Facts You Have To Know About Job Interviews

Fakta yang harus anda ketahui tentang Wawancara Kerja

Berikut adalah fakta-fakta yang harus anda ketahui tentang bagaimana cara menghadapi wawancara kerja. Fakta-fakta tersebut disertai dengan tips dan saran-saran untuk mengatasinya.

Tujuan dari Wawancara Kerja adalah untuk mendapatkan pekerjaan.
Fakta 1. Tujuan interview dari sudut pandang anda adalah :

1. “To sell yourself”
2. Untuk memberikan anda kesempatan untuk berbagi informasi tentang pencari kerja dan kebutuhannya, sejarah perusahaan, lingkungan kerja,aktivitas bisnis, dan rencana masa depan. Barulah kemudian anda bisa memutuskan, apakah pekerjaan tersebut memang untuk anda.

Dari sudut pandang pencari kerja, melalui wawancara kerja mereka dapat mempelajari anda dan kemampuan anda, bakat, minat, kepribadian, pengalaman kerja, pendidikan dan motivasi. Wawancara kerja membantu pencari kerja dan organisasi untuk menemukan kandidat yang sesuai dengan kebutuhan mereka.Wawancara pertama adalah proses untuk saling mempelajari kedua belah pihak dan haruslah merupakan dialog dua arah.

Ingat : Wawancara kerja yang baik memerlukan latihan dan persiapan. Persiapan akan membangun rasa percaya diri anda, akan membantu anda lebih santai dan akan membimbing anda dalam mempresentasikan kulifikasi anda. Hal ini merupakan terjemahan dari SUKSES!!. Wawancara apa pun, bahkan yang bukan untuk wawancara kerja, adalah sebuah persiapan untuk wawancara kerja anda selanjutnya.

Apakah resume anda sama pentingnya dengan wawancara kerja?
Fakta 2. Resume membawa kaki anda menuju ke pintu pencari kerja.Resume membantu anda untuk mengkomunikasikan kualifikasi yang anda miliki kepada pencari kerja. Tapi, resume hanya digunakan untuk menyeleksi kandidat-kandidat untuk wawancara kerja. Terkadang, orang yang mewawancarai anda bahkan belum membaca resume anda dan akan membacanya untuk pertama kali selama wawancara kerja dilakukan.
Wawancara kerja adalah tentang keberuntungan dan berada ditempat yang tepat pada saat yang tepat.
Fakta 3. Kadang hal tersebut benar, terutama apabila anda memiliki jaringan. Wawancara kerja adalah keahlian/skill.
Kesempatan anda sukses dalam wawancara kerja akan meningkat apabila anda tahu tentang :
Bersiap untuk wawancara kerja :

Ceritakan tentang kelebihan anda kepada pencari kerja

Dress for success

Gunakan kekuatan kepribadian anda

Jika persiapan anda tidak matang, meskipun anda begitu bagus diatas kertas. Hal tersebut akan menjatuhkan anda. Anda harus meyakinkan pencari kerja bahwa anda memiliki sesuatu untuk ditawarkan. Semua ini bukan keberuntungan, tapi persiapan.

Okay, apa yang harus disiapkan untuk menghadapi wawancara kerja?
Fakta 4. Pelajari perusahaan pencari kerja, seperti sejarah perusahaan, produk dan servis yang dijual, dan lokasi. Cari data laporan tahunan perusahaan, berita press atau literatur lainnya. Atau, pergilah ke perpustakaan dan cari materi-materi tersebut. Anda juga bisa mempelajari perusahaan pencari kerja melalui internet. Bicaralah dengan calon rekan kerja anda atau dengan orang-orang yang tahu tentang perusahaan tersebut.

Jadi, saat pe-wawancara menanyai anda tentang pengetahuan yang anda miliki mengenai perusahaan tersebut (Hal ini selalu ditanyakan oleh pewawancara), anda akan mengejutkan mereka karena pengetahuan anda, tanpa harus mengatakan “Aduh, saya tidah tahu”
Pastikan anda mengetahui bagaimana cara untuk sampai ke perusahaan tersebut dan berapa lama?. Tidak ada alasan untuk terlambat. Tips : Pergilah ke perusahaan yang bersangkutan dan peroleh informasi yang bisa anda dapatkan. Anda akan tahu pasti bagaimana cara untuk sampai ke kantor perusahaan yang bersangkutan – Satu lagi kekhawatiran yang bisa hilang.

Kenali diri anda. Biasakanlah untuk merasa nyaman membicarakan diri anda, karir anda dan apa saja yang telah anda raih. Latihanlah di depan cermin, atau dengan orang lain.
Pikirkan tentang :

Minat. Pekerjaan seperti apa yang anda inginkan?

Kemampuan. Keahlian apa yang anda miliki? Keahlian seperti apa yang anda gunakan untuk pekerjaan yang anda inginkan?

Nilai-Nilai. Perilaku dasar yang anda harus miliki dalam dunia kerja, dengan orang lain, dan diri anda sendiri

Kelebihan dan Kekurangan. Apa kelebihan anda? Kekurangan apa yang harus dihilangkan untuk mendapatkan pekerjaan tersebut?

Mengetahui Cita-cita Anda. Tanyakan diri anda, apa yang ingin anda lakukan sampai 5 tahun dari sekarang.

Mengetahui pertanyaan yang biasa ditanyakan oleh perusahaan kemudian melatih jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Tips : Apapun pertanyaannya, hubungkan jawabannya dengan pekerjaan.
Berlatihlah berjabatan tangan untuk bisnis dan bagaimana memperkenalkan diri anda.
Benarkah bahwa Pewawancara akan menerima anda karena dia menyukai anda?
Fakta 5. Salah satu alasan kenapa pencari kerja menerima seseorang adalah karena pewawancara merasa nyaman bersama anda dan yakin bahwa anda akan diterima oleh karyawan yang lainnya, atau dengan kata lain, pewawancara menyukai anda. Pewawancara memberi anda kesempatan untuk menunjukkan kepribadian anda, intelektualitas anda, bakat dan minat anda.

Apakah dengan memakai pakaian tertentu akan membantu pewawancara untuk mengingat saya dibanding pelamar lainnya?
Fakta 6. Sekaranglah saatnya untuk membuat pernyataan tentang fashion. Jangan memakai apapun yang dapat mengalihkan perhatian pewawancara dari apa yang sedang anda coba katakan.
Berpakaianlah secara konservatif. Beberapa buku mengatakan bahwa anda sebaiknya berpakaian untuk pekerjaan yang sedang anda kejar. Tapi anda sebaiknya berpakaian lebih baik dari itu, karena anda tidak datang untuk bekerja tapi datang untuk wawancara.

Baik pria maupun wanita sebaiknya memakai pakaian berwarna gelap. Dan jangan lupa hal-hal dibawah ini:

1. Pria sebaiknya tidak memakai anting. Wanita sebaiknya tidak memakai perhiasan yang terlalu mencolok.
2. Baju rapi dan sepatu mengkilat.
3. Jangan memakai parfum yang baunya terlalu mencolok. Banyak orang yang alergi terhadap parfum atau cologne.

Apa yang dimaksud dengan screening interview?
Fakta 7. Banyak pencari kerja yang membuat janji wawancara melalui telepon, tapi mereka juga mungkin akan melakukan interview awal melalui telepon. Anda dipanggil untuk datang pada wawancara resmi tergantung pada bagaimana cara anda melakukan wawancara melalui telepon ini. Bersiaplah, pegang resume anda, informasi perusahaan ataupun alamat yang anda tuju, kertas dan alat tulis. Jangan biarkan si pencari kerja menunggu di telepon sementara anda mencari bahan-bahan tersebut disana sini.
Tips : Ganti mesin penjawab telepon anda ke professional greeting.
(source : Lakeland.com)

Daftar Pertanyaan Yang Sering Ditanyakan Saat Wawancara Kerja

Untuk sukses dalam sebuah job interview, anda harus memperlihatkan respon yang positif untuk semua pertanyaan yang diajukan. Oleh karena itu, untuk membantu Anda agar bisa lebih baik dalam menghadapi wawancara kerja, berikut ini diberikan daftar pertanyaan yang paling sering ditanyakan

Pertanyaan yang biasa ditanyakan dapat dikelompokkan dalam tiga kategori utama yaitu :
1. Pertanyaan yang menunjukkan bahwa anda dapat melakukan pekerjaan tersebut.. Pertanyaan ini berhubungan dengan keahlian, pendidikan, dan pengalaman.
Contoh: Kenapa kami mesti menerima saudara? Kenapa anda mau bekerja di perusahaan ini? Mata pelajaran apa yang paling anda sukai semasa sekolah?
2. Pertanyaan yang menunjukkan bahwa anda akan melakukan pekerjaan tersebut. . Pertanyaan ini berhubungan dengan perilaku kerja, kemampuan untuk melalui, dan motivasi menuju sukses.
Contoh: Apa yang ingin anda raih dalam 10 tahun kedepan? Apa yang akan anda lakukan? Kenapa anda memilik jurusan……semasa kuliah?

3.Pertanyaan yang menunjukkan bahwa anda dapat bersosialisasi dengan baik. . Pertanyaan ini berhubungan dengan hubungan antar individu, fokus fleksibilitas dan kepribadian.
Contoh : Dapatkah anda menggambarkan suasana dan kondisi bekerja yang menurut anda paling ideal dalam hubungannya dengan karyawan lain? Jika saya bertanya pada perusahaan tempat anda bekerja sebelumnya, menurut anda apa yang akan dikatakan oleh mereka? Sebutkan tiga orang yang anda hormati dan kagumi ?

48 Pertanyaan Yang Paling Sering Ditanyakan
Pertanyaan-pertanyaan dibawah ini adalah pertanyaan yang paling sering ditanyakan oleh pewawancara. Jangan menghapalkan jawabannya. Pewawancara tidak mencari jawaban yang spesifik, mereka akan tertarik pada respon anda dan kualitas yang ditampilkan dari respon tersebut. Tidak ada jawaban yang sangat “benar” untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut.

1.Apa rencara jangka panjang dan rencana jangka pendek anda, kapan dan kenapa anda merencanakan hal tersebut, dan apa persiapan anda untuk mencapainya?
2.Apa tujuan spesifik anda, selain yang berhubungan dengan pekerjaan, yang anda miliki untuk 10 tahun kedepan?
3.Menurut anda, apa yang akan anda lakukan 5 tahun lagi?
4.Apa yang sebenarnya ingin anda lakukan dalam hidup ini?
5.Apa tujuan jangka panjang dari karir anda?
6.Bagaimana anda mencapai tujuan karir anda?
7.Apa reward terpenting yang anda harapkan dari karir anda?
8.Apa yang anda harapkan anda peroleh dalam waktu 5 tahun?
9.Mengapa anda memilik karir yang telah anda persiapkan tersebut ?
10.Menurut anda mana yang lebih penting, uang atau tipe pekerjaan?
11.Apa kelebihan dan kelemahan anda?
12.Bagaimana anda mendeskripsikan diri anda sendiri?
13.Bagaimana teman atau guru anda yang sangat dekat dengan anda, menjelaskan diri anda?
14.Bagaimana pendidikan mempersiapkan anda untuk karir yang sedang dijalani?
15.Kenapa kami mesti menerima saudara?
16.Apa kualifikasi yang anda miliki, yang anda pikir menjadi modal anda menuju sukses?
17.Bagaimana anda menentukan atau mengukur tingkat kesuksesan?
18.Menurut anda, apa yang dibutuhkan perusahaan seperti kami agar dapat memetik kesuksesan?
19.Bagaimana cara anda untuk memberikan kontribusi terhadap perusahaan ini?
20.Kualitas apa yang harus dimiliki oleh seorang manajer yang sukses?
21.Jelaskan hubungan seperti apa yang harus dimiliki oleh atasan dan bawahan?
22.Hasil apa yang anda peroleh yang memberikan anda kepuasan maksimal? Kenapa?
23.Jelaskan prestasi anda semasa kuliah?
24.Jika anda mempekerjakan mahasiswa yang baru lulus, apa kualitas yang anda pertimbangkan?
25.Kenapa anda memilih tempat kuliah anda?
26.Apa dasar anda dalam memilih jurusan ?
27.Apa mata kuliah yang paling anda senangi? Apa yang paling anda tidak senangi?
28.Apakah anda suka melakukan penelitian independen?
29.Apa perubahan yang akan anda lakukan di Universitas tempat anda kuliah?
30.Apakah menurut anda, nilai anda merupakan indikasi terbaik untuk hasil akademik anda?
31.Apa yang telah anda pelajari dari kegiatan ekstrakurikuler?
32.Apakah anda berniat untuk sekolah lagi?
33.Suasana kerja seperti apa yang membuat anda merasa nyaman bekerja?
34.Bagaimana anda bekerja dibawah tekanan?
35.Pekerjaan paruh waktu seperti apa yang membuat anda tertarik? Dan kenapa?
36.Bagaimana anda mendeskripsikan pekerjaan ideal bagi anda setelah anda lulus kuliah?
37.Mengapa anda memutuskan untuk melamar pekerjaan di perusahaan ini?
38.Apa yang anda ketahui tentang perusahaan kami?
39.Apa hal yang paling penting dalam pekerjaan anda?
40.Kriteria seperti apa yang anda gunakan, untuk mengevaluasi perusahaan yang anda harapkan menjadi tempat anda nanti bekerja?
41.Bagaimana dengan pilihan wilayah bekerja?
42.Maukah anda dipindahtugaskan ke daerah lain? Apakah pemindahtugasan tersebut menggangu anda?
43.Apakah anda mau melakukan travelling?
44.Apakah anda mau mengikuti pelatihan selama paling kurang 6 bulan?
45.Apa masalah besar yang pernah anda temui dan bagaimana anda menyelesaikannya?
46.Apa yang dapat anda pelajari dari kesalahan yang anda buat?

Pertanyaan-pertanyaan lain yang mungkin
1.Ceritakan tentang diri anda.
2.Apa yang anda ketahui tentang posisi dimana anda sekarang sedang diwawancarai?
3.Apa yang anda pelajari dari tiga posisi terakhir anda?
4.Apakah anda menyukai pekerjaan anda? Kenapa?
5.Selama perjalanan karir anda, posisi mana yang paling anda sukai?
6.Kenapa anda ingin merubah karir anda?
7.Apakah anda memiliki pengalaman sebagai supervisor atau admin?. Ceritakan kepada saya.
8.Bagaimana gaya manajemen anda?
9.Bagaimana keahlian people-management? Berikan satu atau dua contoh.
10.Seberapa bagus anda berkomunikasi secara lisan dan tulisan?Berikan beberapa contoh.
11.Dapatkan anda memenuhi deadlines? Jika iya, berikan contoh.
12.Berikan contoh keputusan yang anda buat, yang menguntungkan perusahaan.
13.Apa yang akan dikatakan oleh rekan kerja anda mengenai diri anda?
14.Apa yg dapat memotivasi anda?
15.Apa hobi anda?
16.Apa yang anda lakukan di waktu senggang anda?
17.Apakah anda mau melakukan perjalanan untuk posisi ini?
18.Jika karir anda menghendaki, apakah anda mau dipindahtugaskan dengan kenaikan jabatan?
19.Apa persyaratan gaji anda?
20.Apa yang akan dikatakan atasan anda tentang anda?

(source : Lakeland.com)

Strategi Bernegosiasi Gaji

Yang perlu diketahui saat melakukan negosiasi gaji

Cari tahu berapa kisaran gaji di tempat-tempat lain – sesuai posisi yang anda dapatkan

Persiapkan kisaran gaji yang bisa menutup kebutuhan anda. Putuskan kisaran ini sebelum anda pergi untuk melakukan interview

Bersikaplah realistik: ketahui berapa gaji yang paling rendah dibagian manajerial ataupun bagian eksekutif

Cobalah berlatih bernegosiasi dengan teman anda, atau cari tahu bagaimana orang lain melakukan negosiasi

Ketahui keahlian dan prestasi anda, jangan ragu mengutarakannya pada mereka

Tips untuk menanyakan berapa gaji yang mereka tawarkan :

Jangan pernah mengatakan, ”Setidaknya saya membutuhkan x rupiah”

Jangan berbohong dengan jumlah gaji anda saat ini

Bersikaplah santai

Setelah terjadi persetujuan tentang pekerjaan dan gaji yang didapat, pastikan anda mendapatkan perincian secara tertulisnya.

Cara mengetahui kisaran gaji di posisi tersebut :

Cari informasi dan catat hasil survey tentang gaji di berbagai perusahaan dari bursa pencari kerja

Carilah data gaji dibidang lain yang mempunyai indikasi sama dengan jabatan anda

Tanyakan pada teman-teman ataupun relasi

Tanyakan pada pencari kerja yang lain – mungkin mereka sudah lebih siap dengan kisaran gaji rata-rata

Cari tahu dari surat kabar atau pun media lainnya, yang mungkin memuat iklan lowongan maupun informasi tentang kisaran gaji di beberapa posisi

Tanyakan keuntungan-keuntungan lainnya :

Asuransi kesehatan – termasuk perawatan gigi atau kacamata, maupun asuransi kecelakaan kerja

Asuransi jiwa

Jatah cuti atau sakit (tanpa pemotongan gaji)

30 Kesalahan Dalam Melakukan Negosiasi Gaji!

Jika anda berencana melakukan negosiasi atau meminta kenaikan gaji, Konsuler Manajemen Caryl dan Ronald L. Krannich Ph.D menyarankan anda tidak melakukan 30 kesalahan berikut ini :

1. Menghindari perbincangan tentang masalah gaji hingga perusahaan menanyakan tentang “Berapa jumlah gaji yang anda inginkan”

2. Gagal saat melakukan tawar menawar gaji akibat kurangnya pengetahuan dan penelitian tentang perbandingan gaji pada jabatan yang sama dengan perusahaan lain

3. Tidak tahu seberapa berharga keahlian anda bagi perusahaan

4. Menjelaskan satu contoh gaji, saat ditanya “Berapa gaji yang anda inginkan”

5. Perasaan sudah “cocok” dan “berhasil” – otomatis akan menghambat gaji anda meningkat

6. Berpikir kalau gaji anda sudah ditetapkan oleh perusahaan

7. Percaya kalau perusahaan akan menaikkan gaji anda kelak, dibanding resiko kehilangan pekerjaan

8. Merendahkan kemampuan diri sendiri

9. Terlalu “besar kepala” dengan kemampuan diri – yang memungkinkan diri anda tidak akan digantikan oleh perusahaan

10.Merasa perusahaan adalah orang yang mengendalikan segalanya, saat negosiasi dilakukan

11.Cobalah untuk membuka kemungkinan untuk melakukan negosiasi, daripada sekedar hanya menceritakan kualifikasin dan kelebihan-kelebihan anda pada pewawancara

12.Tempatkan masalah gaji sebagai hal yang anda bisa meningkatkan kemampuan anda, dari pada sekedar mendapatkan posisi tertentu

13.Fokuskan pada kebutuhan anda, bukan pada rata-rata gaji yang ada

14.Gagal memberikan “keyakinan” akan kemampuan anda, saat melakukan negosiasi

15. Terlalu cepat menanyakan gaji, sebelum pewawancara mendapatkan cukup informasi dan kualifikasi anda

16.Tidak tahu caranya memulai pembahasan gaji dan melanjutkannya menjadi sebuah situasi tawar menawar

17. Lupa menanyakan tunjangan apa saja yang diberikan oleh perusahaan

18. Terlalu banyak berharap pada tunjangan, dari pada berkonsentrasi pada gaji rata-rata posisi anda

19. Membuat imej kalau gaji bukanlah hal yang utama saat melakukan wawancara

20. Terlalu memandang tinggi perusahaan, tanpa melihat berapa gaji yang mereka tawarkan

21.Memberikan gaji yang benar-benar anda inginkan didalam surat lamaran atau pada CV

22.Melakukan negosiasi gaji dan tunjangan lainnya melalui telepon

23.Terlalu cepat menerima tawaran gaji pertama atau kedua dari perusahaan

24.Tidak tahu memanfaatkan waktu sebagai bagian dalam memantapkan nilai-nilai anda di mata pewawancara

25.Gagal memberi kesan yang diinginkan perusahaan dan membangun strategi untuk menemukan kesamaan persepsi, yang bisa meningkatkan penawaran anda

26.Tidak tahu bagaiman menjawab pertanyaan tentang gaji atau salah mengatakan jumlahnya

27.Tidak memberi mereka banyak waktu untuk melakukan negosiasi

28.Tidak tahu kapan harus meninggalkan pekerjaan atau perusahaan lama, untuk mendapatkan gaji yang lebih tinggi ditempat lain

29.Melakukan aksi “jual mahal” saat anda sedikit atau sama sekali tidak memiliki kelebihan

30.Berbohong tentang jumlah gaji anda sebelumnya atau penawaran alternatif gaji lainnya

Memancing Panggilan Wawancara Lewat Resume

sumber : Kompas

SABAN pagi hari, di Jalan Asia Afrika, Bandung, sebuah papan pengumuman di salah satu trotoar selalu dikerubungi banyak orang. Di papan itu tertempel lembaran-lembaran koran lokal yang memuat iklan lowongan pekerjaan.

Belasan orang yang berkerumun itu dengan serius membaca satu per satu setiap iklan, lalu mencatat lowongan yang mereka minati.

“Resume yang menarik sangat memungkinkan seorang pelamar untuk mendapat panggilan wawancara kerja,” ujar Alia Gemala dari Alamcvpro, Professional Resume Consultant.

Alia menyarankan, surat lamaran yang dikirim pelamar sebaiknya berbentuk resume (ikhtisar mengenai data diri) ketimbang curriculum vitae (riwayat hidup). Hal itu dengan catatan tidak ada permintaan khusus dari penyelenggara pekerjaan. Pertimbangannya, resume hanya perlu memuat informasi yang berhubungan dengan keprofesionalan seseorang. Sementara CV menuntut pemuatan informasi personal yang tak ada hubungan langsung dengan keprofesionalan.

Kelebihan lainnya, resume maksimal dua halaman, sementara CV bisa berlembar-lembar, bahkan sepuluh halaman. “Padahal asumsinya, penyelenggara pekerjaan harus membaca banyak lamaran yang masuk sehingga hanya punya waktu sedikit untuk membaca setiap detail lamaran yang datang,” imbuh Alia.

Prinsip dasar resume adalah menyajikan informasi yang jelas, ringkas, dengan format yang rapi. Informasi yang jelas dan ringkas dapat diwujudkan jika pelamar hanya memuat informasi yang berhubungan dengan keprofesionalan seseorang.

Informasi yang tidak berhubungan dengan keprofesionalan adalah informasi yang cenderung personal, seperti status perkawinan, jumlah anak, agama, golongan darah, serta nama sekolah sejak taman kanak-kanak.

“Informasi yang cenderung personal seperti itu memang sebaiknya tidak dicantumkan. Sebab, keterangan semacam itu bisa memancing anggapan-anggapan tertentu yang bisa kurang menguntungkan pelamar. Sementara untuk mengetahui kualitas pelamar yang lebih dalam kan melalui wawancara. Anggapan negatif bisa menyempitkan peluang pelamar memperoleh wawancara,” ujar Amir Basuki dari Alamcvpro menambahkan.

Amir mencontohkan, keterangan status pernikahan, misalnya, peluangnya mudah dipersepsikan negatif bagi penyelenggara pekerjaan yang menuntut pekerjanya bermobilitas tinggi. Ada peluang penyelenggara pekerjaan berpikir orang yang telah menikah, terlebih pekerja perempuan, sulit untuk beradaptasi jika pekerjaannya harus sering ke luar kota.

Pelamar yang merasa punya kualifikasi keprofesionalan yang baik, meski sudah menikah, bagaimanapun berhak untuk mendapat peluang dinilai lebih jauh melalui wawancara langsung. Bukan semata dinilai dari keterangan pada resume dan surat lamarannya.

“Melalui resume pancinglah penyelenggara kerja untuk ingin tahu lebih jauh mengenai diri kita melalui wawancara. Jika saat wawancara ditanya status perkawinan, ya jawab sejujurnya. Namun, jangan muat itu dalam resume sebab itu memberi peluang penyelenggara kerja yang berpersepsi negatif dan urung memanggil kita untuk wawancara,” papar Amir.

ALIA menegaskan, pelamar jangan terjebak untuk menampilkan resume semenarik mungkin hanya dengan membuat format yang menarik tetapi mengabaikan isi. Mengorganisasi informasi diri adalah hal penting yang harus mendapat perhatian pelamar. Seorang pelamar sebisa mungkin bisa menonjolkan potensi dirinya, misalnya melalui pencapaian-pencapaian (accomplishment) yang pernah mereka perbuat.

“Seorang pelamar kerap kali terlupakan menyajikan accomplishment mereka, tetapi hanya menjabarkan responsibility (tanggung jawab) pada pekerjaan mereka sebelumnya. Padahal, accomplishment bisa menjadi semacam garansi bahwa si pelamar ini dapat bekerja baik dalam berbagai situasi,” kata Alia.

Pelamar yang sudah pernah bekerja kerap kali hanya memuat soal tanggung jawab apa saja yang pernah mereka pegang di tempat bekerja sebelumnya. Namun, mereka “lupa” mencantumkan bagaimana pencapaian yang bisa mereka raih berdasarkan tanggung jawab tersebut. Pencapaian atau prestasi bisa juga berarti seseorang dapat menyelesaikan pekerjaan melampaui target yang ditetapkan berdasarkan tanggung jawabnya.

“Namun, Anda jangan pula terjebak menuliskan promosi jabatan sebagai bagian dari prestasi atau pencapaian itu. Kalau promosi tersebut ukurannya enggak jelas, bisa saja calon penyelenggara pekerjaan berpikir bahwa promosi itu subyektif. Bisa saja kan, misalnya karena dia pandai melayani bos lamanya,” ujar Amir.

Dengan demikian, penyajian prestasi atau pencapaian merupakan hasil kerja yang konkret. Misalnya, seseorang sebagai pekerja penjual (sales) dalam kurun waktu tertentu bisa mencapai angka penjualan suatu produk dua kali lipat dari target yang dibebankan kepadanya.

“Namun, Anda tetap harus jujur . Jika ada suatu proyek yang pernah dijalankannya berhasil, dan itu merupakan kerja tim, sebutkan bahwa kita bagian dari tim tersebut, bukan prestasi individual,” tambah Amir.

Pelamar kerja yang belum berpengalaman, misalnya lulusan perguruan tinggi, mencantumkan kegiatan-kegiatan selama masa kuliah tidak ada salahnya. Namun, sebaiknya hanya mencantumkan kegiatan yang sekiranya cukup penting dan ada pencapaian yang berhasil diperolehnya melalui kegiatan tersebut.

“Saya tidak menganjurkan pencantuman berbagai seminar yang pernah diikuti. Itu kurang relevan dan hanya menambah panjang lembar resume saja,” kata Amir.

Hal lain yang juga sering kali dilakukan pelamar adalah menuliskan kalimat-kalimat muluk yang tidak terukur dalam surat lamaran. Seperti lazimnya resume dan surat lamaran (cover letter) masa kini ditulis dalam bahasa Inggris. Amir mencontohkan kalimat, having strong managerial skill (memiliki kemampuan manajerial yang kuat). “Apakah kalimat dalam surat lamaran itu ada penjelasan di dalam resumenya? Terkadang tidak, jadi hanya kalimat-kalimat muluk yang tidak ada ukurannya untuk diketahui penyelenggara kerja saat membaca,” ujar Amir.

Dia menekankan, jika pelamar ingin menuliskan deskripsi diri dengan kalimat-kalimat “tinggi”, sebaiknya juga menyertakan bukti konkret dan relevan dalam resume.

“Kalimat-kalimat muluk itu kerap kali muncul mungkin juga karena pelamar, khususnya lulusan baru, mencontoh dari surat lamaran orang lain. Itu sangat tidak disarankan sebab setiap orang unik dengan segala potensi dan kekurangannya,” tandas Amir.

Tetap Optimis Saat Mencari Pekerjaan

Siapa bilang mencari pekerjaan itu gampang? Rasanya kalimat itu sering sekali diucapkan oleh
semua orang dengan merujuk pada kenyataan yang ada sekarang ini. Namun tahukah anda
bahwa rasa frustrasi menunggu datangnya panggilan itu jauh lebih menyiksa? Hal itu
dikarenakan ketidakpastian yang melanda, yang membuat perasaan jadi tidak karuan. Memang
banyak orang yang memilih untuk bersikap masa bodoh dan cuek, namun berapa lama sih hal
itu bisa bertahan, apalagi kalau panggilan itu tidak kunjung datang?

Jangan remehkan rasa frustrasi ini, karena efeknya bisa panjang. Bisa-bisa saat anda benarbenar
mendapat panggilan, lamaran anda ditolak hanya karena pembawaan atau raut muka
anda yang kusut sebagai efek lanjutan dari rasa kesal tersebut. Mempertahankan keyakinan dan
motivasi memang sangat vital dalam fase ini, namun dengan kiat-kiat berikut, pertahankan
pemikiran positif anda.

1. Rajin- rajinlah ngobrol dengan teman
Akan lebih baik bila dalam situasi sulit seperti ini, anda mempunyai seorang teman
sebagai tempat curhat. Ingat-ingatlah saran-saran yang diberikannya, siapa tahu
bermanfaat bagi anda. Atur waktu teratur untuk bertemu dan berdiskusi, semakin
banyak masukan yang diberikan semakin baik bagi anda.

2. Buat catatan
Tetaplah hidup teratur dengan menyimpan catatan-catatan tentang nomor telepon atau
kapan dan kemana saja kita mengirim lamaran pekerjaan. Dengan mencatat hal-hal
kecil namun penting tersebut, akan lebih mudah saat melakukan follow-up.

3. Bagi waktu dengan baik
Atur dan tentukan berapa lama waktu yang akan dihabiskan untuk membuat surat
lamaran yang akan dikirimkan, melakukan riset pasar melalui website atau hal- hal lain
yang menyangkut lamaran pekerjaan. Dengan begitu, kita tidak berharap terlalu
banyak atau merasa kecewa saat tidak mampu menyelesaikan apa yang telah
ditargetkan tepat pada waktunya.

4. Tentukan tujuan
Motivasi adalah hal yang paling penting dalam mempertahankan harapan dan tidak
putus asa, jadi jangan buat target yang terlalu muluk-muluk. Tetaplah realistis dan
berusahalah untuk dapat konsisten menjalankannya. Sebagai contoh, jangan sampai
anda berencana untuk melakukan puluhan kali telepon dalam satu hari — anda hanya
akan menjadi depresi bila target tersebut tidak tercapai.

5. Perkuat keyakinan diri
jangan biarkan diri anda larut dalam frustrasi berkepanjangan! Bila anda memerlukan
peralatan kosmetik baru (parfum atau lipstick misalnya), makan dessert yang enak,
atau melakukan massage hanya supaya anda merasa lebih baik, lakukan saja. Lakukan
apapun yang bisa membuat perasaan anda lebih baik, sejauh hal itu tidak merugikan
diri sendiri atau orang lain. Dengan begitu, saat dipanggil untuk wawancara anda dapat
tampil lebih percaya diri dan tenang.

6. Kumpul dengan teman-teman
Sediakan waktu misalnya sekali dalam seminggu atau sebulan untuk berkumpul dengan
teman-teman anda (yang mungkin senasib), tanya perkembangan masing-masing
termasuk menjelaskan tentang perkembangan anda sendiri. Usahakan agar suasana
berlangsung santai dan tidak mengeluarkan banyak uang. Ingatlah bahwa tidak ada
orang yang berusaha mencari lowongan selama 24 jam, jadi tetaplah bergaul!

Kesalahan Umum Dalam Melamar Kerja

Sejak awal Anda harus menghindari kesalahan-kesalahan yang mungkin timbul saat melamar pekerjaan. Nah, ada baiknya Anda ketahui 8 kesalahan umum yang seringkali dilakukan para pencari kerja. Coba simak di bawah ini:

Surat-surat tidak lengkap
Jangan pernah menganggap sepele kelengkapan surat lamaran. Maka sebelum melayangkan surat lamaran Anda, periksa kembali kelengkapan dokumen Anda. Satu saja ketidaklengkapan surat lamaran Anda, bisa dijadikan alasan penolakan permohonan kerja. So, lengkapi selalu dokumen lamaran Anda.

Terlalu banyak referensi
Referensi memang perlu Anda sertakan bersama surat lamaran dan curriculum vitae (CV). Tapi mencantumkan daftar referensi yang kelewat panjang juga bisa menimbulkan salah pengertian. Bisa jadi, Anda akan dianggap suka memamerkan dan menonjolkan diri. Untuk itu, sertakan referensi yang memang benar-benar penting, yang sekiranya dapat menambah penilaian. Jika referensi Anda tidak berhubungan dengan pekerjaan yang Anda lamar sebaiknya tidak usah disertakan.

Datang terlambat
Jam karet memang sudah menjadi budaya di Indonesia tapi hendaknya jangan sampai menulari Anda. Sekali Anda datang terlambat saat wawancara pekerjaan, penilaian terhadap diri Anda akan minus. Apalagi jika Anda melamar ke perusahaan asing, biasanya tidak ada toleransi bagi keterlambatan. Maka cobalah untuk ontime setiap kali memenuhi panggilan wawancara kerja.

Pakaian kurang sopan
Kesan pertama seringkali dimulai dari penampilan. Karena itu cara Anda berbusana menjadi hal yang sangat penting saat Anda datang melamar pekerjaan atau memenuhi panggilan wawancara. Penyeleksi mempunyai penilaian tersendiri ketika melihat pelamar kerja. Karena itu gunakan busana yang sopan dan lazim digunakan untuk kesempatan panggilan kerja. Hal ini juga perlu diikuti dengan penampilan secara keseluruhan, seperti rambut dan dandanan wajah yang rapih, pemakaian sepatu dan tas yang pantas.

Salah tulis atau sebut nama
Pimpinan perusahaan akan sakit hati seandainya namanya ditulis atau diucapkan secara keliru. Hal ini akan mempengaruhi kewibawaan dan reputasinya. Usahakan agar meneliti kembali saat menulis nama orang dalam surat lamaran atau menyapa seseorang.

Mencantumkan ketrampilan palsu
Jangan sekali-kali mencantumkan atau mengakui ketrampilan yang tidak Anda miliki. Ingat, penyeleksi akan lebih jeli akan hal ini. Mereka akan terus meneliti bagian-bagian dalam CV atau daftar riwayat hidup yang dianggap terlalu dibuat-buat. Bahkan ada yang mempersiapkan tes praktek langsung untuk menguji kebenaran laporan Anda. Oleh sebab itu jangan coba-coba menonjolkan sesuatu yang tidak Anda miliki.

Bicara berbelit-belit
Wawancara merupakan 'moment' yang tepat bagi Anda untuk mengungkapkan siapa diri Anda sebenarnya. Biasanya pewawancara akan menanyakan semua segi yang berhubungan dengan CV atau daftar riwayat hidup yang telah Anda kirimkan. Dalam menyerap informasi dari Anda, mereka menggunakan logika berpikir secara rasional. Setiap uraian akan dihubungkan dengan keterangan sebelumnya. Karena itu jangan memberi keterangan yang berbelit-belit. Apabila penyeleksi menganggap Anda memberikan keterangan yang tidak jelas, jangan berharap diterima.

Meminta fasilitas di awal seleksi
Ini merupakan kesalahan yang cukup fatal bagi pelamar kerja. Jika belum ada keputusan diterima jangan sekalipun menuntut fasilitas ini itu. Anda akan dianggap bermental materialistis. Walaupun tujuan bekerja salah satunya mendapatkan kelayakan materi, tapi sebaiknya, Anda harus menekankan apa yang bisa Anda berikan daripada apa yang akan Anda dapatkan. Biasanya jika Anda bisa memberikan kontribusi terbaik, fasilitas akan mengikuti Anda.

Sebenarnya masih banyak kelalaian lain yang kerap dilakukan saat melamar pekerjaan. Tapi jika Anda ingin sukses diterima bekerja tentunya Anda sudah semakin cerdas menerapkan cara melamar pekerjaan yang baik. Jangan lupa, kepandaian dan kecerdasan Anda juga perlu didukung oleh sikap yang menggambarkan moralitas dan intelektualitas yang positif. Selamat berburu pekerjaan…!

Hidup Ini Sederhana

Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah, dan hal itu terlihat oleh peng-interview, dan dia mendapatkan pekerjaan tersebut.

* Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik.

Ada seorang anak menjadi murid di toko sepeda. Suatu saat ada seseorang yang mengantarkan sepeda rusak untuk diperbaiki di toko tsb. Selain memperbaiki sepeda tsb, si anak ini juga membersihkan sepeda hingga bersih mengkilap. Murid-murid lain menertawakan perbuatannya. Keesokan hari setelah sang empunya sepeda mengambil sepedanya, si adik kecil ditarik/diambil untuk kerja di tempatnya.

* Ternyata untuk menjadi orang yang berhasil sangat mudah, cukup punya inisiatif sedikit saja.

Seorang anak berkata kepada ibunya: "Ibu hari ini sangat cantik."
Ibu menjawab: "Mengapa?"
Anak menjawab: "Karena hari ini ibu sama sekali tidak marah-marah."

* Ternyata untuk memiliki kecantikan sangatlah mudah, hanya perlu tidak marah-marah.

Seorang petani menyuruh anaknya setiap hari bekerja giat di sawah.
Temannya berkata: "Tidak perlu menyuruh anakmu bekerja keras, tanamanmu tetap akan tumbuh dengan subur."
Petani menjawab: "Aku bukan sedang memupuk tanamanku, tapi aku sedang membina anakku."

* Ternyata membina seorang anak sangat mudah, cukup membiarkan dia rajin bekerja.

Seorang pelatih golf berkata kepada muridnya: "Jika sebuah bola jatuh ke dalam rerumputan, bagaimana cara mencarinya?"
Ada yang menjawab: "Cari mulai dari bagian tengah."
Ada pula yang menjawab: "Cari di rerumputan yang cekung ke dalam."
Dan ada yang menjawab: "Cari di rumput yang paling tinggi."
Pelatih memberikan jawaban yang paling tepat: "Setapak demi setapak cari dari ujung rumput sebelah sini hingga ke rumput sebelah sana ."

* Ternyata jalan menuju keberhasilan sangat gampang, cukup melakukan segala sesuatunya setahap demi setahap secara berurutan, jangan meloncat-loncat.

Katak yang tinggal di sawah berkata kepada katak yang tinggal di pinggir jalan: "Tempatmu terlalu berbahaya, tinggallah denganku."
Katak di pinggir jalan menjawab: "Aku sudah terbiasa, malas untuk pindah."
Beberapa hari kemudian katak "sawah" menjenguk katak "pinggir jalan" dan menemukan bahwa si katak sudah mati dilindas mobil yang lewat.

* Ternyata sangat mudah menggenggam nasib kita sendiri, cukup hindari kemalasan saja.


Bergerak !!!

sumber : Bergerak!!
oleh : Rhenald Kasali
post yang sama bisa dibaca di totalwellness

“Sebagian besar orang yang melihat belum tentu bergerak, dan yang bergerak belum tentu menyelesaikan (perubahan).”

Kalimat ini mungkin sudah pernah Anda baca dalam buku baru Saya, “Change“.
Minggu lalu, dalam sebuah seminar yang diselenggarakan Indosat, iseng-iseng Saya mengeluarkan dua lembaran Rp 50.000. Di tengah-tengah ratusan orang yang tengah menyimak isi buku, Saya tawarkan uang itu. “Silahkan, siapa yang mau boleh ambil,” ujar Saya. Saya menunduk ke bawah menghindari tatapan ke muka audiens sambil menjulurkan uang Rp 100.000.

Seperti yang Saya duga, hampir semua audiens hanya diam terkesima. Saya ulangi kalimat Saya beberapa kali dengan mimik muka yang lebih serius. Beberapa orang tampak tersenyum, ada yang mulai menarik badannya dari sandaran kursi, yang lain lagi menendang kaki temannya. Seorang ibu menyuruh temannya maju, tetapi mereka semua tak bergerak.

Belakangan, dua orang pria maju ke depan sambil celingak-celinguk. Orang yang maju dari sisi sebelah kanan mulanya bergerak cepat, tapi ia segera menghentikan langkahnya dan termangu, begitu melihat seseorang dari sisi sebelah kiri lebih cepat ke depan. Ia lalu kembali ke kursinya.

Sekarang hanya tinggal satu orang saja yang sudah berada di depan Saya. Gerakannya begitu cepat, tapi tangannya berhenti manakala uang itu disentuhnya. Saya dapat merasakan tarikan uang yang dilakukan dengan keragu-raguan. Semua audiens tertegun.

Saya ulangi pesan Saya, “Silahkan ambil, silahkan ambil.”
Ia menatap wajah Saya, dan Saya pun menatapnya dengan wajah lucu.
Audiens tertawa melihat keberanian anak muda itu.
Saya ulangi lagi kalimat Saya, dan Ia pun merampas uang kertas itu dari tangan Saya dan kembali ke kursinya. Semua audiens tertawa terbahak-bahak.
Seseorang lalu berteriak, “Kembalikan, kembalikan!”
Saya mengatakan, “Tidak usah. Uang itu sudah menjadi miliknya.”

Setidaknya, dengan permainan itu seseorang telah menjadi lebih kaya Rp.100.000.
Saya tanya kepada mereka, mengapa hampir semua diam, tak bergerak.
Bukankah uang yang Saya sodorkan tadi adalah sebuah kesempatan?
Mereka pun menjawab dengan berbagai alasan:

“Saya pikir Bapak cuma main-main …………”
“Nanti uangnya toh diambil lagi.”
“Malu-maluin aja.”
“Saya tidak mau kelihatan nafsu. Kita harus tetap terlihat cool!”
“Saya enggak yakin bapak benar-benar akan memberikan uang itu..”
“Pasti ada orang lain yang lebih membutuhkannya….”
“Saya harus tunggu dulu instruksi yang lebih jelas…..”
“Saya takut salah, nanti cuma jadi tertawaan doang….”
“Saya, kan duduk jauh di belakang…”
dan seterusnya.

Saya jelaskan bahwa jawaban mereka sama persis dengan tindakan mereka sehari-hari.
Hampir setiap saat kita dilewati oleh rangkaian opportunity (kesempatan), tetapi kesempatan itu dibiarkan pergi begitu saja.
Kita tidak menyambarnya, padahal kita ingin agar hidup kita berubah.

Saya jadi ingat dengan ucapan seorang teman yang dirawat di sebuah rumah sakit jiwa di daerah Parung. Ia tampak begitu senang saat Saya dan keluarga membesuknya. Sedih melihat seorang sarjana yang punya masa depan baik terkerangkeng dalam jeruji rumah sakit bersama orang-orang tidak waras. Saya sampai tidak percaya ia berada di situ. Dibandingkan teman-temannya, ia adalah pasien yang paling waras.
Ia bisa menilai “gila” nya orang disana satu persatu dan berbicara waras dengan Saya. Cuma, matanya memang tampak agak merah. Waktu Saya tanya apakah ia merasasama dengan mereka, ia pun protes.
“Gila aja….ini kan gara-gara saudara-saudara Saya tidak mau mengurus Saya. Saya ini tidak gila. Mereka itu semua sakit…..”. Lantas, apa yang kamu maksud ’sakit’?”

“Orang ’sakit’ (gila) itu selalu berorientasi ke masa lalu, sedangkan Saya selalu berpikir ke depan. Yang gila itu adalah yang selalu mengharapkan perubahan, sementara melakukan hal yang sama dari hari ke hari…..,” katanya penuh semangat. Saya pun mengangguk-angguk.

Pembaca, di dalam bisnis, gagasan, pendidikan, pemerintahan dan sebagainya, Saya kira kita semua menghadapi masalah yang sama.
Mungkin benar kata teman Saya tadi, kita semua mengharapkan perubahan, tapi kita tak tahu harus mulai dari mana.
Akibatnya kita semua hanya melakukan hal yang sama dari hari ke hari,
Jadi omong kosong perubahan akan datang. Perubahan hanya bisa datang kalau orang-orang mau bergerak bukan hanya dengan omongan saja.

Dulu, menjelang Soeharto turun orang-orang sudah gelisah, tapi tak banyak yang berani bergerak.
Tetapi sekali bergerak, perubahan seperti menjadi tak terkendali, dan perubahan yang tak terkendali bisa menghancurkan misi perubahan itu sendiri, yaitu perubahan yang menjadikan hidup lebih baik.
Perubahan akan gagal kalau pemimpin-pemimpinnya hanya berwacana saja.
Wacana yang kosong akan destruktif.

Manajemen tentu berkepentingan terhadap bagaimana menggerakkan orang-orang yang tidak cuma sekedar berfikir, tetapi berinisiatif, bergerak, memulai, dan seterusnya.

Get Started.
Get into the game.
Get into the playing field, Now.
Just do it!.

Janganlah mereka dimusuhi, jangan inisiatif mereka dibunuh oleh
orang-orang yang bermental birokratik yang bisanya cuma bicara
di dalam rapat dan cuma membuat peraturan saja.
Makanya tranformasi harus bersifat kultural, tidak cukup sekedar struktural.

Ia harus bisa menyentuh manusia, yaitu manusia-manusia yang aktif, berinisiatif dan berani maju.
Manusia pemenang adalah manusia yang responsif.

Seperti kata Jack Canfield, yang menulis buku Chicken Soup for the Soul, yang membedakan antara winners dengan losers adalah
“Winners take action, they simply get up and do what has to be done”.

Selamat bergerak!

Sumber: Bergerak oleh Rhenald Kasali

Tips Menulis Surat Lamaran Dengan Benar

Melayangkan surat lamaran, entah itu melalui pos, faks, atau lewat e-mail sekalipun, tetap membutuhkan tata krama. Sebab, lewat surat yang Anda kirimkan, akan terlihat seberapa besar potensi yang Anda miliki.
Menurut Dr. Rhenald Kasali, Ketua Program Ilmu Manajemen Pascasarjana UI dan Direktur IMeDE, ramuan surat lamaran seharusnya memiliki hal-hal berikut, yaitu: impressive cover letter, menarik minat calon atasan, memuat kualifikasi (prestasi) yang diraih, dengan bahasa yang enak dibaca, ringkas, dan jelas.
Selain itu, ada beberapa hal penting yang berkaitan dengan penulisan surat :
Surat tak cuma berfungsi sebagai duta bagi pengirimnya, tapi harus mampu menarik perhatian si penerima dengan efektif. Jika ditulis secara efektif, kemungkinan untuk mendapatkan balasan yang cukup baik pun semakin besar.

2.Ketahui siapa pembaca surat Anda.
Ingat, Anda bukan tengah menulis surat cinta tapi surat lamaran kerja. Sehingga Anda harus tahu siapa saja kiranya yang akan membaca surat Anda tersebut.
3.Perhatikan susunan isi.
Surat lamaran yang baik tentu saja tidak terlepas dari susunan isi yang berkesinambungan.
4.Sesuaikan dengan kualifikasi yang ada.
Sebaiknya,jangan coba-coba mengirim surat lamaran dengan kualifikasi pekerjaan yang tidak tercantum dalam iklan lowongan pekerjaan. Karenanya, periksalah sedemikian rupa apakah kualifikasi pekerjaaan yang Anda inginkan sesuai dengan kebutuhan pihak Sumber Daya Manusia (SDM) perusahaan yang Anda lamar.
5.Jangan cepat puas.
Tidak ada salahnya menulis surat lamaran berulang-ulang. Namanya saja sedang berusaha mendapat perhatian, kesempurnaan tentu diperlukan. Jadi, setelah Anda selesai menulis, lakukanlah pengeditan dengan membacanya sekali lagi.
6.Batasi jumlah baris.
Usahakan untuk membatasi baris kalimat dalam setiap paragrafnya. Sebaiknya,dalam setiap paragraf itu berisi tidak lebih dari enam atau tujuh baris. Selain terlihat lebih rapi, pembacanya kelak tidak terlalu lelah saat harus membacanya.
7.Tunjukkanlah jaringan yang Anda miliki.
Tidak ada salahnya jika Anda menyebut beberapa orang yang bisa memberikan referensi tentang siapa Anda sebenarnya. Menurut Rhenald, orang yang berhak memberikan referensi adalah dosen di tempat Anda kuliah dulu, atau bisa juga mantan bos. Tapi, jangan sampai Anda merujuk referensi kepada orang yang sudah bertahun-tahun tidak Anda jumpai, meskipun dulu ia pernah menjadi bos atau dosen Anda.
8.Jangan lupa untuk mencatatnya.
Catatlah surat yang Anda kirimkan. Jika Anda telah melayangkan surat lamaran, jangan lantas melupakannya.
9.Kualifikasi CV.
Masih kata Rhenald, CV sebaiknya memiliki hal-hal berikut ini, yaitu objektif, memuat riwayat pengalaman kerja, keahlian dan kualifikasi, riwayat pendidikan, serta data pribadi. Sebaiknya, Anda memulai daftar riwayat hidup dari yang terbaru, baru mundur ke belakang. Bila Anda belum pernah bekerja, CV dibatasi satu halaman saja.


11 Tips Membuat Lamaran Anda Tampak Professional

  • Sesuaikan lamaran Anda dengan iklan yang Anda tanggapi. Gunakan kata-kata yang telah disesuaikan dengan iklan.
  • Gunakanlah lamaran berbahasa Inggris, karena lamaran berbahasa Inggris meningkatkan persepsi kualitas dua kali lebih baik dari lamaran berbahasa Indonesia.
  • Gunakan kertas sejenis conqueror untuk mencetak lamaran Anda. Jangan gunakan kertas HVS biasa.
  • Gunakan amplop khusus untuk lamaran Anda. Lamaran dengan amplop coklat membuat Anda sama saja dengan pelamar lain. Buatlah amplop sendiri menggunakan kertas conqueror yang sama dengan kertas lamaran Anda.
  • Buatlah riwayat hidup Anda dengan versi resume, bukan dengan versi CV.
  • Masukkanlah hanya data yang penting dan menjual saja pada lamaran Anda. Setiap data tidak penting dan menjual hanya akan menurunkan kualitas lamaran Anda.

  • Berfotolah dengan pakaian jas dan dasi untuk pria, atau three-pieces suite untuk wanita. Gunakan foto berwarna dan ukuran 4X6
  • Ceritakan dengan baik pengalaman Anda dalam bentuk action word. Beri gambaran pada perekrut kompetensi apa yang Anda kuasai.
  • Tulislah riwayat hidup Anda dengan versi kronologis terbalik. Perekrut menganggap bahwa pelamar yang menulis resume secara kronologis terbalik adalah kandidat professional dan memiliki kompetensi
  • Pertimbangkan dokumen yang Anda masukkan ke dalam amplop lamaran dengan seksama. Semakin sedikit lembar dokumen yang Anda masukkan, asalkan benar-benar penting dan membangun persepsi kompetensi, makin membuat perekrut menaruh respek dan penghargaan pada Anda.
  • Kirimkan lamaran Anda pada hari iklan dimuat. Amplop awal yang datang pasti akan dibuka oleh perekrut. Amplop ke-4000 yang datang mungkin sekali tak akan pernah sempat dibuka perekrut.

Tips Menentukan Gaji dalam Interview

Setelah berhasil melewati beberapa tahapan wawancara kerja, besar kemungkinan anda akan diterima di perusahaan tersebut. Maka yang harus anda lakukan adalah mempersiapkan diri untuk menerima pertanyaan, "Berapa gaji yang anda inginkan ?"

Negoisasi gaji adalah salah satu bagian tersulit dalam mendapatkan pekerjaan. Jika meminta jumlah yang terlalu besar, perusahaan mungkin akan mengurungkan niatnya merekrut anda. Sebaliknya, jika jumlah yang anda minta terlalu rendah, mungkin anda akan diterima, namun gaji yang didapatkan dibawah standar yang seharusnya dibayarkan perusahaan tersebut.

Setelah bekerja selama beberapa waktu, lalu anda mengetahui fakta tersebut, pastilah anda akan merasa kecewa. Dan solusinya adalah meminta kenaikan gaji, dan hal ini bukanlah proses yang mudah. Untuk "memenangkan" negosisasi gaji pada saat interview, ikuti petunjuk berikut :

PERATURAN NO. 1 : Dapatkan Informasi

Sebelum wawancara, manfaatkan networking anda. Anda bisa mendapatkan informasi dari teman atau senior anda yang bekerja di perusahaan tersebut/industri serupa, terutama untuk divisi atau posisi yang sama. Sumber lain adalah internet atau tabloid yang memuat mengenai survey/informasi gaji.

PERATURAN NO. 2 : Mendengarkan

Di awal wawancara, jangan pernah langsung menyebutkan berapa gaji yang anda inginkan. Semakin lama anda "menunda", maka semakin banyak informasi yang bisa didapatkan untuk "memenangkan" negoisasi gaji.

Langkah awal, pada saat wawacara, anda sebaiknya "mencari tahu" dari sang pewawancara, ada berapa banyak kandidat untuk posisi tersebut, dan telah berapa lama lowongan tersebut dibuka. Jika lowongan tersebut telah dibuka dalam waktu yang lama, ada kemungkinan perusahaan kesulitan untuk mendapatkan kandidat yang memenuhi kualifikasi. Jika anda high qualified, mungkin anda bisa mendaptkan nominal yang dinginkan.

PERATURAN KE 3 : Berlatih

Anda boleh menyebutkan sejumlah angka pada saat bernegoisasi. Tetapi jangan terlalu tinggi dari standar gaji yang berlaku untuk industri/perusahaan tersebut. Jika ini terjadi, pewawancara malah menganggap anda tidak serius. Ini berarti anda kehilangan kesempatan.

Jika anda menginginkan sejumlah nominal yang tinggi untuk gaji anda, katakanlah sejumlah gaji pada top range, tunjukkah bahwa kualifikasi anda memang pantas untuk itu. Sebelum hari wawancara, anda bisa mempersiapkan "pidato" selama 1-2 menit yang mendeskrisikan apa yang anda bisa berikan untuk perusahaan jika anda diterima bekerja di tempat tersebut.

Satu hal yang harus dingat, pada saat perusahaan memberikan penawaran, anda tidak harus memberikan jawaban saat itu juga. Anda bisa minta waktu untuk mempertimbangkan semuanya dalam mengambil keputusan. Jika tawaran perusahaan lebih rendah dari yang anda harapkan, anda bisa saja menolak.

Apalagi pada saat bersamaan, ada tawaran yang lebih menggiurkan dari perusahan lain. Namun, ada hal lain yang patut dipertimbangkan, apakah posisi yang ditawarkan nerupakan langkah strategis untuk perkembangan karir anda.


--- . Perusahaan melakukan "secreening phobe call"

Yang harus anda lakukan adalah bertanya dengan sopan mengenai kisaran gaji untuk posisi tersebut.

Jika si penelpon tidak memberikan informasi untuk hal tersebut, anda sebaiknya merespon dengan mengatakan, "Berdasarkan informasi yang saya dapatkan mengenai standar gaji untuk industri ini, mencakup gaji pokok, lembur, training, dan fasilitas yang ada, asuransi kesehatan, biaya perjalanan, jenjang karir, bonus, komisi, dan jenis profit sharing lainnya, gaji yang saya inginkan berkisar Rp xxx,- sampai dengan Rp yyy,- (berikan kisaran yang luas). Saya bersedia datang untuk wawancara pada hari X jam Y. Apakah Bapak/ibu bersedia mempertimbangkan ?.

-- . Jika pewawancara mengajukan pertanyaan mengenai gaji pada saat awal wawancara, anda punya 3 pilihan :

* Berusaha menunda negoisasi dengan mengatakan, "Saya melamar untuk posisi ini karena sangat tertarik akan bidang ini dan perusahaan anda. Tetapi saya rasa saya baru bisa membahas masalah gaji dengan anda setelah kita berdua "yakin" bahwa saya memang memenuhi kualifikasi untuk posisi ini."

* Memberikan respon yang tidak spesifik dengan mengatakan, "Selama saya dibayar sesuai standar perusahaan anda dan tanggung jawab yang harus saya penuhi untuk posisi ini, saya rasa tidak ada masalah."

* "Membalikkan" pertanyaan kepada pewawancara. Jika pewawancara melontarkan pertanyaan di awal wawancara , "Jika anda diterima bekerja di sini, berapa gaji yang anda inginkan ?". Maka anda bisa menjawab seperti ini, "Saya sangat tertarik untuk berkerja di sini, menjadi bagian dari perusahaan ini. Tetapi sebelumnya saya ingin mengetahui, untuk kualifikasi kandidat dengan latar pendidikan dan keahlian seperti saya, berapakah standar gaji di perusahaan ini ?".

-- Negoisasi gaji di pertengahan wawancara --

* Perusahaan menawarkan gaji dalam kisaran yang sesuai/bisa anda terima. Pewawancara mengatakan, "Gaji untuk posisi ini berkisar dari Rp xxx,- sampai dengan Rp yyy,- Apakah anda bersedia menerima tawaran ini ?. Yang harus anda katakan, "Saya sangat menghargai tawaran ini.

Saya sangat tertarik untuk mengaplikasikan yang telah saya pelajari selama kuliah di perusahaan ini. Jumlah yang anda sebutkan tadi adalah yang seperti saya harapkan untuk gaji pokok, ditambah dengan beberapa aspek lainnya seperti asuransi, uang lembur, dan fasilitas lainnya.

* Anda hanya tertarik pada top range dari gaji yang di tawarkan. Yang harus anda katakan, "Terimakasih atas tawaran anda untuk bergabung dengan perusahaan ini. Saya yakin berbagai keahlian yang saya miliki merupakan benefit bagi perusahaan ini. Berdasarkan apa yang saya ketahui mengenai standar gaji dan penawaran dari perusahaan lain, saya harus mengatakan bahwa saya hanya bisa mengatakan "ya" untuk kisaran atas dari jumlah yang Bapak/Ibu sebutkan tadi.

* Jika anda sama sekali tidak tertarik dengan gaji yang ditawarkan. Yang harus anda katakan, "Terimakasih atas tawaran Bapak/Ibu untuk bergabung dengan perusahaan ini. Saya sangat tertarik untuk mengaplikasikan yang telah saya pelajari selama kuliah di perusahaan ini.

Namun ada beberapa perusahaan lain yang juga memberikan tawaran kepada saya, untuk posisi yang sama dan gaji yang lebih tinggi. Tentu saja, uang bukan faktor penentu utama, saya juga mempertimbangkan faktor-faktor lain seperti training, jenjang karir,dan sebagainya.

* Pewawancara tidak menyebutkan jumlah kisaran gaji. Yang harus anda katakan, "Dari apa yang saya ketahui, berdasarkan standar industri, gaji pokok untuk posisi ini adalah sebesar Rp xxx. Dan berdasarkan pendidikan dan keahlian yang saya miliki, saya mengharapkan gaji pada middle range, katakanlah Rp yyy. Baagimana menurut Bapak/Ibu ?".

* Jika pewawancara memberikan penawaran di akhir wawancara. Ini berarti pewawancara sangat tertarik untuk merekrut anda. Yang harus anda katakan, "Saya siap untuk menerima penawaran terbaik dari perusahaan ini." Dan jika gaji ditawarkan memang seperti apa yang anda inginkan, katakan, "Hal terpenting bagi saya adalah kesempatan untuk bergabung di perusahaan ini, dan saya yakin gaji yang ditawarkan sangat kompetitif."

Petunjuk untuk "FRESH GRADUATES".

- Perusahaan memilih anda karena kualifikasi yang dimiliki, bukan gaji yang anda sebutkan. Perusahaan menerima anda bekerja adalah untuk meningkatkan profit mereka.

- Dalam wawancara, anda harus meyakinkan bahwa anda mampu mengerjakan tugas/tanggung jawab untuk posisi tersebut. Jika tidak, mereka tidak akan memberikan penawaran apapun bagi anda.

- Jika anda belum memiliki pengalaman kerja, ingat akan kualitas anda yaitu pendidikan dan keahlian. Dua hal itulah yang akan membuat anda sukses di dunia kerja.

- Apa yang membuat perusahaan memutuskan menerima anda ?. 95% nya berdasarkan kepribadian, antusiasme, dan keahlian anda. 5% nya adalah karena keahlian khusus yang anda miliki.

PERATURAN NO. 4 : Jika Penawaran Resmi Telah Dibuat

Jika penawaran resmi telah dibuat, ajukan pertanyaan sebagai berikut :

- Apakah ada kesempatan promosi untuk posisi ini ?. Untuk posisi atau level apa ?.

- Kapan dan bagaimanakah penilaian kinerja pegawai untuk posisi ini ?.

- Apakah penilaian tersebut termasuk untuk review gaji ?.

- Seperti apakah peningkatan gaji yang ditawarkan untuk 3-5 tahun mendatang ?.



Selain gaji, biasanya perusahaan juga memberikan kompensasi dalam bentuk :

* Asuransi kesehatan (dengan atau tanpa mencakup perawatan gigi & mata) .Walaupun perusahaan tidak meng-cover semua biaya, fasilitas ini akan membuat anda membayar lebih murah.

* Asuransi jiwa.

* Asuransi kecelakaan, terutama untuk pegawai yang sering bepergian/jenis pekerjaan dengan risiko tinggi.

* Peningkatan gaji untuk 3-5 tahun pertama. Apakah hanya peningkatan pertahun ?. Atau ada peningkatan gaji/pemberian bonus berdasarkan prestasi kinerja ?.

* Fasilitas cuti.

* Biaya pensiun (berlaku untuk perusahaan tertentu).

* Profit sharing.

* Stock option. Beberapa perusahaan menerapkan sistem pembagian saham kepada karyawan.

* Training atau pendidikan tertentu.

* Uang lembur & transportasi.

* Fasilitas kredit kendaraan/rumah.

PERATURAN NO. 5 : Hal lain yang harus diperhatikan

- Ucapkan terimakasih atas penawaran yang diberikan.

- Jangan langsung bernegoisasi pada saat pewawancara menyebutkan penawaran. Mintalah waktu untuk mempertimbangkan kompensasi secara keseluruhan, bukan hanya gaji.

- Pada saat bernegoisasi, jangan katakan, "Saya meminta …". Yang terbaik anda harus mengatakan, "Saya mengharapkan..,".

- Terkadang gaji yang ditawarkan mungkin lebih rendah dari yang anda inginkan. Sebelum meng-iya-kan atau menolak, pertimbangkanlah faktor lain seperti reputasi perusahaan, budaya perusahaan, suasana kerja, macam asuransi yang ada, training dan pendidikan, dan sebagainya.

negotiation techniques for sales, contracts, debts, buying, selling and training

source : businessballs.com
These negotiation techniques are primarily for sales, but apply also to other negotiations, such as debt negotiation, contracts negotiating, buying negotiations, salary and employment contracts negotiations, and to an extent all other negotiating situations. Negotiation is vital for an organization's overall effectiveness. Organizational effectiveness is a product of activities within a system - internal and external. Negotiation is critical to establishing the internal system (structure, people, functions, plans, measures, etc), and the organization's relationship to the external system (markets, suppliers, technology, etc). Negotiation is also critical to optimising the performance of activities internally and externally (principally through communication, by people).

Good sales negotiation - the rules of which feature below - can easily add 10% to sales revenues, which arguably goes straight to the bottom line as incremental profit. Good purchasing negotiation can easily save 10% of the cost of bought in products and services, which again arguably goes straight to the bottom line as extra profit. Good negotiation by managers in dealing with staff can easily reduce staff turnover by 5-10%, which reduces recruitment and training costs by at least the same %, as well as improving quality, consistency and competitive advantage, which for many companies is the difference between ultimate success and failure. Good negotiation by executives with regulatory and planning authorities enables opening new markets, developing new technologies, and the choice of where the business operates and is based, all of which individually can make the difference between a business succeeding or failing.

Successful debt negotiation with creditors enables a business to continue trading. Failure to negotiate debts often leads to business closure. See the notes on debt negotiation for business creditors and personal debts such as credit cards, in the debt negotiation article below.

Salary negotiation affects individuals and organizations, and good negotiation skills on both sides produce positive outcomes for all. See also the tips on asking for a salary rise, and dealing with salary increase requests on the pay rise page.

These negotiation techniques deal mainly with sales negotiation and are written from the point of view of the 'seller'. If you are 'buying', or want to know how buyers tend to behave look at the note alongside the headings. Sales negotiation is an increasingly important part of the sales process. Negotiation starts when buyer and seller are conditionally committed to the sale (not sooner if you are the sales person; the sooner the better if you are the buyer). Negotiation generally results in a price compromise between seller and buyer - ie., the seller reduces and the buyer increases from their starting positions. Clever buyers will attempt to negotiate before giving any kind of buying commitment. Clever sales people will resist this. Here are the rules of sales negotiating, which imply also the rules for successful negotiating when buying.

modern collaborative approaches to negotiating

In modern times, the aim of negotiation (and therefore in training negotiating and negotiation role-plays) should focus on creative collaboration, rather than traditional confrontation, or a winner-takes-all result. The modern and ideal aim of negotiations - which should be reinforced in training situations - is for those involved in the negotiation process to seek and develop new ways of arriving at better collaborative outcomes, by thinking creatively and working in cooperation with the other side. Negotiating should develop a 'partnership' approach - not an adversarial one. As such, negotiating teams and staff responsible for negotiating can be encouraged to take a creative and cooperative approach to finding better solutions than might first appear possible or have historically been achieved in practice.

Every negotiation, when viewed creatively, entrepreneurially and collaboratively, provides an excellent opportunity to develop and improve synergies between and benefiting both sides, within the negotiated outcome.

You might find it useful to refer to Sharon Drew Morgen's concepts regarding collaborative facilitation, which although developed primarily for front-end of the selling process, are also extremely useful for cooperative negotiating. Each side is uniquely positioned to see how the other side can more effectively contribute to the combined solution - it can be a strange concept to appreciate initially, but is extremely powerful in any situation where two people or sides seek to reach agreement to work together, which is essentially what negotiation is all about.

That said, it is still important to understand and to master the traditional techniques and principles of negotiation, if only to provide a defence and strategy where the other side is firmly committed to an old-style confrontational approach, and these techniques are explained below:

negotiation tips, techniques and principles

First and most importantly, positioning is everything in negotiation. The way that the situation is initially approached, and when, are more influential on outcomes than all of the other negotiating tactics and techniques combined.

Rules 1 and 2 are absolutely critical even before you start a negotiation.

1. have an alternative - negotiate with freedom of choice

If selling be unique, and have lots of other potential customers, and so be able to walk away; if buying definitely be able to walk away.

Whether you are buying or selling, if you can't walk away because you need the deal so badly or because the other side is the only game in town, then you are at a serious disadvantage. If the other side believes you are the only game in town then you have the advantage. No other factor is so important: the more you need to secure the deal, the weaker your position, so avoid negotiating when you need the business badly (for the same reason, never find a new house and fall in love with it before you sell your own). The same will apply to your customer, which is why buyers almost always give you the impression that they can go somewhere else - even if they can't or don't want to.

This also means that when selling you must create an impression that there is no alternative comparable supplier. You have to create the impression that your product or service is unique, and that the other person has nowhere else to go. The way you sell yourself and your product must convince the other person that he has nowhere else to go, and that he cannot afford to walk away.

This positioning of uniqueness is the most important tactic, and it comes into play before you even start to negotiate.

If your product offer is not unique remember that you are part of it. You can still create a unique position for yourself by the way that you conduct yourself, build trust, rapport, and empathy with the other person.

Establishing a position (or impression) of uniqueness is the singlemost effective technique when you are selling, whereas denying uniqueness is the most powerful tactic of the buyer.

2. negotiate when the sale is conditionally agreed, not before (if buying the opposite applies)

Negotiate when the sale is conditionally agreed, and no sooner (buyers tend to try to negotiate before giving you any commitment - don't let them)

Or, put another way, don't get drawn into negotiating until you've got agreement in principle to do business.

If you start to negotiate before receiving this commitment you'll concede ground and the customer will attain a better starting point. This would put pressure on you to find more concessions later, and ensure a better finishing point for the customer.

If you are not sure that the customer is conditionally committed to the sale, then ask (a conditional closing question), eg "If we can agree the details will you go ahead?"

If you're buying, then the opposite applies: start to negotiate for concessions before agreeing you want to buy (try this when you next buy something - you'll be amazed at what you can secure without giving any commitment in return).

3. aim high

Aim for the best outcome (buyers aim low, and they tend not to go first either)

(If you're buying, aim very - even ridiculously - low - but do it politely.) Whatever you're doing, your first stake in the sand sets the limit on your best possible outcome. There's no moving it closer to where you want to go; it'll only move the other way. Your opening position also fixes the other person's minimum expectation, and the closer your start point is to the eventual finishing point the more difficult it is to give the other person concessions along the way and ultimately arrive at a win-win outcome.

Many negotiations are little more than a split-the-difference exercise. They shouldn't be, but that's often the underlying psychology and expectation. So it's logical that to achieve the best possible finishing position you should start as ambitiously as you can (without losing credibility of course).

If you have the option to hear the other person's offer first, then do so. It's a fact that whoever makes the opening offer is at a disadvantage. If you go first, the other person can choose to disregard it and ask for a better offer. And the other person avoids the risk of making an offer themselves that is more beneficial than you would have been prepared to accept. It's amazing how often a buyer is prepared to pay more than an asking price, but avoids having to do so because they keep quiet and let the seller go first.

Vice-versa, the seller can often achieve a higher selling price than he anticipates if he hears what the buyer is prepared to offer first.

4. let the other side go first

Try to avoid 'going first' on price if you can. (Buyers will often be trying the same tactic.)

If you know the other person's starting point before you have to give your own, then this is clearly an advantage to you. For example, if selling, ask the other side if they have an 'outline budget'.

Sometimes you will be pleasantly surprised at what the other side expects to pay (or sell at), which obviously enables you to adjust your aim. Letting the other side go first is a simple and effective tactic that is often overlooked.

Letting the other side go first on price or cost also enables you to use another tactic, whereby you refuse to even accept the invitation to start negotiating, which you should do if the price or cost point is completely unacceptable or a 'silly offer'. This then forces the other side to 'go again' or at least re-think their expectations or stance, which can amount to a huge movement in your favour, before you have even started.

5. list all of the other side's requirements before negotiating

Get the other person's full 'shopping list' before you start to negotiate (buyers usually do the opposite - they like to pick concessions up one by one - indefinitely)

Establish in your own mind what the other person needs, including personal and emotional aspects. Everything that is part of or related to a deal has a value. Everything has a cost to you or your organization, even if it's not on the price list. Negotiation isn't just about price and discount. It's about everything that forms the deal. It's about specification, colour, size, lead-time, consumables, contract length, penalty payments, get-out clauses, delivery dates, stock-holding, re-order lead-times, after-sales support product, product training, technical back-up, breakdown service, call-out costs, parts costs, parts availability, payment type, payment date, payment terms. All these and more are called variables, and each one affects the cost. Some affect the cost more than others, and buyers and sellers nearly always place a different value on each. It's critical therefore to know exactly what your buyer wants before you start to negotiate. Get the full list of issues written down and commit him to it. This is vital if you are to keep a track on the values of the deal and the eventual outcome. You also avoid your position being eroded bit by bit by the late introduction of concessions required.

Your buyer's personal and political requirements are important too, and the bigger the deal the more significant these factors are. You need to understand what they are, particularly the political and procedural needs within the other person's organization or situation that affect the deal. These issues will concern the way that the organizations relate to each other; who talks to whom; how justifications and reports are prepared; arrangements for future reviews; provision of information; product development collaboration; issues involving intellectual property, future mutual business opportunities, etc.

Remember that when you sell to someone in an organization or group, your buyer is staking his personal reputation within his situation on you, and will not do so lightly, so you need to understand all of his needs and concerns.

Only then you can begin to understand what the implications, costs and perceived values are.

6. trade concessions - don't give them away

Never give away a concession without getting something in return (buyers tend to resist giving any concessions at all)

This is a matter of discipline and control. It's simple. Never give anything away without getting something in return. If you do you are not negotiating you are simply conceding.

A commitment from the other person can be a suitable concession to get in return for something of relatively low value. The simplest and most elegant concession to secure is agreement to proceed with the deal now - use it to close.

7. keep the whole picture in your mind

Keep the whole package in mind all of the time (buyers tend to divide and erode your position, bit by bit)

The buyer's tactic will be to separate out single issues, or introduce new ones later. If you allow this to happen your position will be eroded.

Think about the knock-on effects to the whole situation every time a concession is requested. The overall value and profitability of a deal or contract depends on it's component parts. When you change one element, you change the whole, so keep the whole situation in mind - keep assessing effects on the total arrangement, understand the effects, and explain how each change or demand affects the whole thing.

8. prepare and keeping looking for variables (tradable concessions for both sides)

Keep searching for variables, concessions, 'bargaining chips', incentives. (Buyers will look for your concessions but will tend not to offer their own)

A variable or tradable is any factor that can be altered and which has a real or perceived value. You are not a mind-reader and the other person may not be totally open, or even fully aware of all the possible variables that are of interest, so keep looking for them.

Prepare and estimate values of real and perceived variables before the negotiation, and keep looking for new ones during the negotiation.

If the other side is cooperative involve them in looking for variables too - for both sides.

The more variables you find the less you will have to give on price, and the more added-value you can build into the deal. The buyer will not offer his own concessions normally, so you can look for his possible concessions as well as your own (ie variables within the buyer's situation as well as your own).

9. keep accurate notes

Keep accurate notes, and show that you are doing it (the buyer stands to benefit from any lack of record, and some buyers conveniently forget things that are not in their favour, even concessions you've won from them)

Controlling the negotiation is vital. the other person may forget, misunderstand, or attempt to distort interpretation of what was discussed and agreed. Keeping notes shows that you are in control, professional, can't be out-flanked, and enables you to summarise and assess continually.

10. summarise and clarify the negotiation as you go

Summarise and confirm understanding continually (see above - it's your loss, not the buyer's, if you allow misunderstandings to develop)

This avoids misunderstandings developing, accidentally or otherwise. Misunderstandings can be catastrophic, not so much because of the way they affect the financial structure of the unfolding deal, but because they undermine the rapport and the trust, which is critical to being able to do business in the first place.

Getting positive agreement throughout the process also is psychologically important; it strengthens trust and commitment, and helps to ease the other person into an agreeable frame of mind.

After the negotiation obviously it is essential to give the other person clear written confirmation of the deal.

negotiation - more information

These days we are much more determined to press for concessions and the best possible price. Buyers, particularly consumers, are more confident and financially aware.

Where competitive pressures exist, prices are driven downwards. Where one supplier offers a certain concession or discount, customers expect all others to follow suit.

Suppliers' prices are more visible, so customers know what's on offer elsewhere, and they use this knowledge to secure the best possible deal.

In the face of these increasing pressures we need to have:

  • very good negotiating skills
  • commercial understanding (to appreciate the value and implications of each element within a deal, and for giving justification and explanation, etc.)
  • very good communication skills - empathy - (so as to able to communicate a commercial position whilst maintaining a good relationship)
  • a consistent corporate policy and authorisation structure covering discounting and giving concessions

Organizations that have several points or people through which negotiations can take place must perform well in these areas. A chain is only as strong as its weakest link.

Organizations with inconsistent or vague negotiation practices are vulnerable. Customers are able to find and exploit weaknesses and precedents to drive prices down, force concessions and discount levels up, resulting in erosion of margins for the company. This happens because the company loses control over its starting positions (first stance), and unwittingly provides precedents for generous finishing positions.

Negotiating a deal, whether you are buying or selling, is a strange business.

In a selling role for a company, good negotiation requires a careful combination of empathy for the other person's situation and feelings, with our own responsibilities to secure the best possible commercial outcome for the company.

On occasions there can be a personal dilemma, particularly if our selling style is one that uses a lot of relationship-building and trust. We can feel torn between the interests of the customer - with whom it is of course essential to build an understanding - and the needs of the company.

So it is essential to remember our fundamental responsibility as a sales person, which helps to avoid being drawn into the dilemma territory; remember:

You work for your company, not for the customer.

By the same token, the customer is out to secure the best possible deal for themselves and their organization, not for your company. (Have you ever known a customer refuse a discount or concession on the basis that it isn't in the best interest of the supplier? Of course not.)

Another factor is our responsibility to existing customers. We undermine our relationships with existing customers if we offer preferential terms to new customers, just to get the deal.

Giving too much away, or referring a negotiation to a higher authority has a demoralising, undermining effect, and customers don't respect it - they take advantage of it. The urge to sustain a friendly, highly amenable relationship with the customer above all else is a trap that we must be alert to, it's human nature, but lots of customers will use it to their advantage. It is entirely possible to maintain a friendly helpful relationship while at the same time being very firm in negotiating the business.

Deep down we all respect someone who takes a firm approach to business, as long as it is delivered in an understanding and empathic way, with proper explanation and justification for the stance taken.

Good negotiating builds our own confidence and natural authority, not to mention the fun we can have outside work, when we are the buyer.

It's extremely important to make an assessment of where the other person is coming from; what the real and perceived issues are, and to separate the psychological factors from the practical ones.

A person's need to feel that they've succeeded in squeezing out a good deal is far different from the practical issue of simply whether they have enough money to afford the transaction, or whether the timings and availability can possibly fit together.

The purpose of negotiation is to reach a fair and reasonable compromise, not to try to do the impossible.

If a reasonable and commercially acceptable compromise is within reach we must use all our skills to achieve it through negotiation.

If the other person's demands are not reasonable, commercially acceptable, or if any aspects of each side's position do not fit, negotiation is not the answer.

This is why at times the most important word to use in any negotiation is 'NO'.

when not to negotiate (ways of saying 'no')

People say a lots of different things when they really know the answer is "No."

"I'll see what I can do."

"I'll let you know.""


"I'll ask."

"I'll find out."

"You could call head office and ask; they have more authority than me."

If the demand or request is not possible, too commercially demanding, or not reasonable for any reason we must kill it there and then, or it will come back to haunt you. Do not negotiate if there are unrealistic demands being made at any stage. This is for three reasons.

  • It prevents you having to concede substantial ground unnecessarily.
  • It avoids raising false hopes, which would make it difficult for us later to satisfy later.
  • It stamps your personal authority and professionalism on the situation.

A clear and honest "No, I'm afraid not," with suitable explanation and empathy for the other person's situation is all it takes.

notes on debt negotiation

Whether debts are business or personal, these debt negotiation skills should help you to improve your situation. Negotiation of debts for business, or personal debts such as credit cards, or debts with other creditors, start with one simple rule that is often overlooked:

debt negotiation skill 1:


Amazingly many people who find themselves confronted by personal or business debts and pressure from creditors fail to think of negotiation as an option. Understandably fearful or embarrassed, people and businesses with debt problems usually fail to confront the situation until it's too late. Fear not - most people and businesses get into serious debt at some stage in their lives. Many of the most successful business owners and tycoons have been bankrupt or presided over insolvent businesses at some time - getting onto debt is part of experience and risk-taking in business, and it's part of life in the process of growing up. You are not alone. The important thing is what you do about it. When you know you have a problem, start negotiating. Debtors often think there's no point, that negotiation isn't an option, but it is, and here's why:

Creditors most fear losing their money and having to write off the debt altogether. That's why creditors generally are very happy to begin the negotiation process when debts have become a problem for the debtor. To a creditor, negotiating a debt means that they have a chance of recovering some or all of the debt. If a creditor fails to begin a debt negotiation with the debtor, the creditor faces costs of debt recovery (solicitor's letters and debt collection agency fees, etc), and a real risk that the debtor will for whatever reason be unable to pay any of the debt (insolvency, bankruptcy, deliberate avoidance, etc), which leaves the creditor no option other than to write off the debt, losing everything, and having to pay debt recovery costs. Where there is negotiation there is hope of partial or complete debt recovery, and the avoidance of debt collection costs, which is why creditors generally welcome the offer to negotiate from a debtor in difficulty.

debt negotiation skill 2:

Seek advice and help. Whether for a personal or business debt, don't try to do it all by yourself. Getting into debt can be a lonely and threatening experience, so seek a friendly shoulder to cry on, someone to share your thoughts with, and ideally someone who has a bit of experience and wisdom, who can help you see a way forward. Try to avoid paying for this sort of help - avoid the unknown, especially the pariahs out there who will take advantage of your vulnerability given half a chance. If you have personal debts such as credit cards contact an advisory service - there are plenty who can help depending where you are in the world. If your business has debts, contact your trade association, or local business support centre, again there are various organizations depending on where you are. At the very least call on a friend to help find some support and advice. Linked to the points above and below, the creditor is often a really good source of help and advice - remember, the creditor wants you to succeed, not fail.

debt negotiation skill 3:

The third skill is to ask the creditor for help. Options usually appear straight away when a creditor realises there is a debt problem, because the creditor wants to help keep the debtor solvent. Options typically extended by creditors include:

  • renegotiated credit and supply terms, enabling the business debtor to continue to trade.
  • extension of the period by which the debt has to be settled.
  • price, product and supply arrangement review, to determine whether future economies can be found for the debtor, to avoid increasing the debt any more than absolutely unavoidable.
  • debtor stock-holding review, to assess possibility of returning stock to the creditor, and reducing the debt.
  • Creative creditors may come up with more ideas - the important thing is to talk and work together to resolve the problem constructively.

debt negotiation skill 4:

The third debt negotiation skill is about behaviour and style. Work with the creditor. Be open and positive, and build trust with the creditor. If the creditor trusts you and believes that you wish to resolve the debt honestly and as fully as you can, then the creditor will be positive and flexible in return. They want to help you work your way through the difficulties, because if you fail, the likelihood is that the debt will have to be written off altogether. The people negotiating for the creditors spend their lives dealing with debtors who are dishonest, elusive, and distrustful. When a debtor demonstrates willingness to co-operate and negotiate fairly the creditor will respond in kind. Debts are a threat to the creditor's business too, which is why debt recovery people can be firm and aggressive. You will reduce the creditor's need to be aggressive if you co-operate and build trust.

debt negotiation skill 5:

Make changes. Debts build up because something has gone wrong, so understand what it is and take steps to prevent it happening again or continuing. Debts don't generally happen by accident, they happen because plans are wrong, controls are too relaxed or non-existent, or because spending isn't properly monitored and measured. Identify what's wrong and put it right. Tell the creditor what you are doing so they they understand you have taken steps to ensure the problem won't get worse or re-occur.

debt negotiation skill 6:

Keep smiling. Not easy, but try to keep things in perspective. Aim to honour your commitments and obligations as best you can, but keep things in proportion. Do your best for the creditor(s), but be fair to yourself. If you are still reading this you'll not be the sort of person who deliberately and maliciously gets into debt and then seeks to avoid responsibility. So try to keep a calm detachment, and don't eat and sleep your debt difficulties. Do what you can to resolve your debt problems, but make sure you spend time re-fuelling your spirit and strength. Business is a bit like a game, it's a means to an end. It's not life and death. Money is a means to an end too. It's not life and death.

A negotiation story (light relief for negotiating training sessions or debt negotiation meetings)

A sales-woman is driving home in the rain when she sees a little old lady walking by the roadside, heavily laden with shopping. Being a kindly soul, the sales-woman stops the car and invites the old lady to climb in. During their small talk, the old lady glances surreptitiously at a brown paper bag on the front seat between them. "If you are wondering what's in the bag," offers the sales-woman, "It's a bottle of wine. I got it for my husband." The little old lady is silent for a while, nods several times, and says ........ "Good trade."

(ack C Byrd)